skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

DAKWAH DI ERA MODERN


Oleh Muhazzab Said

Abstrak :   Islam is a da’wah religion, Islam also gave birth to da’wah and propaganda is itself an Islamic spirit. Islam can only be developed if the propaganda promoted in the midst of human life at all times and places.
Implementation of da’wah in the modern era, as now, the more so in the future will increasingly heavy and complex, because of the problems faced by proselytizing and missionary interpreters growing and increasingly complex as well. The progress of science and technology has brought many changes to society, both in the way of thinking, attitude, and act, so the propaganda strategy that performed well adapted to the changing needs and the development of society who become the object of da’wah.
                  
Kata kunci : dakwah, modernitas

Pendahuluan
Untuk memahami konsep modern akan lebih mudah  kalau dilacak dari akar katanya. Secara etimologis term modern berasal dari bahasa Latin “moderna” yang berarti sekarang, baru, atau saat ini. Atas dasar itu, manusia dikatakan modern  sejauh kekinian menjadi pola kesadarannya. 
Dalam bahasa Indonesia istilah modern sendiri adalah adjektive (kata sifat), di mana dalam gramatikal Indonesia sebuah adjektive apabila ditambahi dengan  “isasi”  berarti mempunyai makna proses, jadi  modernisasi merupakan sebuah proses modern. Kata sifat ini akan mempunyai arti lain lagi, bila dibubuhi  dengan “isme”. Karena menunjukkan paham, kredo, atau aliran, maka modernisme mempunyai makna paham tentang modernitas. Kalau sudah mengkrucut menjadi paham (modernisme), maka unsur-unsur nilai di dalamnya sudah cenderung idiologis. Idiologi modern inilah yang nantinya menjadikan sebuah gerakan modernisasi.
Namun yang perlu diketahui bahwa modernitas tidak hanya menyangkut  soal waktu, tetapi juga tentang pembaharuan. Artinya, selain seseorang menjadikan kekinian sebagai basis kesadarannya, ia juga harus mempunyai pola-pola pembaharuan dalam kehidupannya. Karena modernisasi secara implikatif, cenderung merupakan proses yang di dalamnya komitmen   pola-pola lama dikikis, kemudian menyuguhkan pola-pola baru dan pola-pola baru inilah yang diberi status modern.
Modernisme dalam masyarakat Barat mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah faham-faham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, untuk disesuaikan dengann suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahauan dan teknologi modern. Pikiran dan aliran ini segera memasuki lapangan agama dan modernisme dalam hidup keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katholik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat modern. Aliran ini akhirnya membawa kepada timbulnya sekularisme di masyarakat Barat.
Kemajuan  ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam, terutama sesudah pembukaan abad kesembilan belas, yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan  periode modern.  Kontak dengan dunia Barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke dunia Islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi, dan sebagainya. Semua ini menimbulkan persoalan-persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru itu (Harun Nasution, 1975: 11).
Sebagai halnya di Barat, menurut Harun Nasution di dunia Islam  juga timbul pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Dengan jalan demikian, pemimpin-pemimpin Islam modern mengharap akan dapat melepaskan umat Islam dari suasana kemunduran untuk selanjutnya dibawa kepada kemajuan.
Kaum orientalis, yang sejak lama mengadakan studi tentang Islam dan umat Islam, mempelajari perkembangan modern tersebut. Hasil penyelidikan itu pada mulanya mereka siarkan dalam bentuk artikel di majalah-majalah ilmiah seperti Muslim World, Studia Islamica … dan sebagainya, kemudian dalam bentuk buku  seperti Islam and modernism in Egypt yang dikarang oleh CC. Adams tahun 1933, Modern Islam in India, yang ditulis oleh W.C. Smith di tahun 1943, Modern Trends in Islam yang disusun oleh H.A. R Gibb di tahun 1946. Hasil penyelidikan kaum Orientalis Barat ini segera melimpah  ke dunia Islam. Kaum terpelajar Islam  mulailah pula  memusatkan perhatian pada perkembangan modern dalam Islam dan kata moderrnisme pun mulai diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang dipakai dalam Islam seperti al-tajdid dalam  bahasa Arab,  dan pembaharuan dalam bahasa Indonesia.  Karna  kata modernisme dianggap mengandung arti-arti negatif di samping arti-arti positif, maka untuk menjauhi arti-arti negatif itu, lebih baik kiranya dipakai terjemahan Indoensia yaitu pembaharuan (Harun Nasution, 1975: 11).

Ciri-Ciri Modernitas
Masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya  mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah kepada kehidupan dalam peradaban masa kini. Pada umumnya masyarakat modern tinggal di daerah perkotaan, sehingga disebut masyarakat kota, walaupun tidak semua masyarakat kota dapat disebut masyarakat  modern karena ia tidak memiliki orientasi ke masa kini.
Modernitas sendiri dicirikan oleh tiga hal yaitu : Subjektivitas, kritis, dan kemajuan.          
1. Dengan konsep subjektivitas dimaksudkan bahwa manusia harus menyadari dirinya subjectum, yaitu  sebagai pusat  realitas.  Dengan paham  inilah maka abad modern ditandai oleh menyeruaknya paham-paham antroposentrisme. Nilai-nilai yang sifatnya antroposentris ini tidak lain adalah antitesis dari nilai-nilai lama yang sifatnya teosentris.   
Dalam ranah sosial, salah satu implikasi yang nyata kuatnya adalah unsur subjektivitas dalam kehidupan modern adalah munculnya individualisme. Individualimse akhirnya juga sekaligus menjadi ciri khusus dari kehidupan modern. Sebuah masyarakat apabila sudah  menginjak atau memasuki rimba raya modernitas maka pola kehidupannya cenderung  individualistik. Ini tentu berbeda dengan kehidupan tradisional-teosentris yang di dalamnya unsur-unsur sosial  masih sangat kental. Jadi dalam konteks ini modernitas bisa berarti lahirnya otonomi dan independensi manusia dari sesamanya dalam kehidupan.
Bahkan lebih jauh, secara filosofis, pakar postmodernisme, David Griffin mengatakan  bahwa individualimse sebenarnya berarti suatu penolakan bahwa diri pribadi manusia secara internal berhubungan hal-hal lain, bahwa setiap individu manusia sangat ditentukan oleh hubungannya  dengan orang lain, dengan lembaga, dengan  alam, dan dengan masa lalunya atau mungkin dengan Pencipta.
2. Kritik. Kritik ini juga masih dalam pengertian subjektivitas tersebut, sejauh dihadapkan pada otoritas. Dimensi rasionalitas dalam kerangka kritis ini secara konkrit terefleksi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Modernitas berasumsi bahwa knowledge is power. Dengan semangat kritis ini modernitas mempunyai ambisi untuk mendekonstruksi paham-paham   tradisional yang dianggapnya menyesatkan, penuh dengan takhyul, mitos, kejumudan, dan keterbelakangan.
Oleh karena itu, misi utama modernisme adalah mendobrak teradisi lama yang penuh mitologi dan takhyul tersebut untuk digantikan dengan tradisi baru yang berbasis rasionalitas dan ilmu penegetaahuan ilmiah, mengganatikan mitos dengan logos. Dalam rangka demitologisasi inilah, akal secara penuh difungsikan sebagai panglima untuk mendobrak  paham lama yang berada di bawah rezim agama (gereja) dan mencoba bereksperimen menemukan tradisi-tradisi baru lewat metode ilmiah. Walaupun sebelumnya otoritas  agama (gereja) dalam  menentukan  kebenaran di  setiap sektor kehidupan demikian kuatnya, sehingga rasionalitas menjadi terbonsai. Maka lahirnya modernitas, dalam semangat kritik ini adalah upaya untuk melepaskan rasio dari cengkraman agama (gereja), dan merekonstruksi peradaban dunia baru berdasarkan rasionalitas murni. Dengan demikian, modernitas dalam konteks ini adalah untuk membersihkan debu-debu spiritual dan mistisisme era kegelapan dari panggung sejarah peradaban manusia. Pada akhirnya kedua unsur di atas bertujuan untuk menciptakan kemajuan.
Kemajuan dalam modernitas ditandai dengan megahnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak rasionalitas secara langsung adalah maraknya penemuan-penemuan baru dalam ilmu penegetahuan dan teknologi. Sains-positivistik, sebagai dampak dari semangat rasionalitas, telah menjadi pedoman hidup baru masyarakat modern. Di era modern, Sains telah menjadi “agama” baru yang dijadikan sebagai standar utama untuk mengukur absah tidaknya  kebenaran. Bahwa sebuah  kebenaran baru bisa dianggap sebagai kebenaran manakala ia memenuhi kualifikasi yang digariskan oleh sains. Maka saintisme dan positivisme berarti bahwa metode ilmu pengetahuan alam modern yang membatasi dari hanya sampai menetapkan fakta-fakta (bukannya nilai-nilai) adalah satu-satunya cara untuk menentukan kebenaran.
Sedangkan menurut S.C. Dube (1988) bahwa ciri manusia modern ditentukam oleh struktur, institusi, sikap, dan perubahan nilai pada pribadi, sosial, dan budaya. Masyarakat modern mampu  menerima dan menghasilkan inovasi baru, membangun kekuatan bersama serta meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Oleh karenanya modernisasi sangat memerlukan hubungan yang selaras antara kepribadian dan sistem sosial budaya. Kemampuan berfikir secara rasional sangat dituntut dalam prosoes modernisasi. Masyarakat modern tidak mengenal lagi penjelasan yang irasional seperti yang dikenal oleh masyarakat tradisional. Rasionalitas menjadi dasar dan karakter pada hubungn individu dan pandangan masyarakat terhadap masa depan yang mereka idam-idamkan (Slamet Widodo, 2008).
Selain itu, implikasi lain dari modernisme ini adalah terjadinya mekanisasi kehidupan. Ini merupakan konsekuensi logis dari teknologi sebagai dampak majunya sains modern.  Karakter utama teknologi adalah sifatnya yang mekanaistik dan instrumentalistik. Hal ini tercermin dalam dunia industri modern yang sarat dengan teknologi sebagai alat produksinya.
Di samping yang disebutkan di atas, masyarakat modern memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Pertama, hubungan antarmanusia terutama didasarkan atas kepentingan pribadi. Kedua, hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dengan suasana yang saling mempengaruhi. Ketiga, kepercyaan yang kuat akan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahateraan masyarakat. Keempat, masyarakat modern tergolong ke dalam bermacam-macam profesi yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, ketrampilan, dan kejuruan. Kelima, tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata. Keenam, hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang sangat kompleks. Ketujuh, ekonomi hampir seluruhnya merupakan ekonomi pasar yang didasarkan atas penggunaan uang dan alat-alat pembayaran lain.
Masyarakat modern dapat pula dilihat dari berbagai aspek :
1.    Aspek mental: a) Cenderung didasarkan pola pikir serta pola perilaku rasional, dengan ciri-ciri menghargai karaya orang lain, menghargai waktu, menghargai mutu, berfikir kreatif, efisien, produktif, percaya pada diri sendiri, disiplin, dan bertanggung jawab. b) Memiliki sifat keterbukaan, yaitu dapat menerima pandangan dan gagasan orang lain.
2.    Aspek Teknologi: a) Teknologi merupakan faktor utama untuk menunjang kehidupan ke arah kemajuan atau modernisasi. b) Sebagai hasil ilmu pengetahuan dengan kemampuan produksi dan efisiensi yang tinggi.
3.    Aspek Pranata Sosial: a) Pranata agama relatif kurang terasa dan tampak dalam kehidupan sehari-hari, diakibatkan karena sekularsme. b) Pranata ekonomi: 1) Bertumpu pada sektor industri pembagian kerja yang lebih tegas dan memiliki batas-batas nyata. 2) Kesempatan kerja antarpria dan wanita sangat tinggi. 3) Kurang mengenal gotong royong. 4) Hampir semua kebutuhan hidup masyarakat diperoleh melalui pasar dengan menggunakan uang sebagai alat tukar yang sah.
4.    Pranata keluarga: a) Ikatan kekeluargaan sudah mulai melemah dan longgar, karena cara hidup yang cenderung individualistis. b) Rasa solidaritas berdasarkan kekerabatan umumnya sudah mulai menipis.
5.    Pranata pendidikan: Tersedianya fasilitas pendidikan formal mulai dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi, di samping ketrampilan khusus lainnya.
6.    Pranata Politik: Adanya pertumbuhan dan perkembangan kesadaran berpolitik sebagai wujud demokratisasi masyarakat.
   Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa modernisme pada awal kemunculannya difungsikan untuk menggugat mitos, sekarang justru menjadi mitos baru. Hal ini terjadi karena sistem paradigmatik modern oleh para pemeluknya dijadikan sebagai satu-satunya kebenaran dan menafikan kebenaran dari sudut pandang lain.

Dakwah Modernitas
1.  Pengertian Dakwah
Dilihat dari segi bahasa, kata dakwah berasal dari kata Arab yang merupakan bentuk mashdar dari kata da’a, yad’u, yang berarti seruan, ajakan, atau panggilan (Ilyas Ismail, 2006: 144). Seruan ini dapat dilakukan melalui suara, kata-kata, atau perbuatan. Dakwah juga bisa berarti do’a yakni harapan, permohonan kepada Allah swt. sebagaimana tercantum dalam firman Allah QS. Al-Baqarah [2] : 186.
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (maka jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apaabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam keadaan kebenaran (Departemen Agama RI, 1990: 51).
Kata dakwah juga berarti mengajak kepada kebaikan, dan juga ada yang berarti mengajak kepada keburukan. Kata dakwah yang berarti mengajak kepada kebaikan, dapat dilihat dalam al-Qur’an antara lain Surah al-Nahl (16): 125, Surah Yunus (10): 25. Sebaliknya, kata dakwah ada pula yang disandarkan pada jalan keburukan atau jalan setan atau jalan ke neraka, misalnya dalam Surah Luqman (31): 21, Surah Fathir (35): 6. Di samping itu, term dakwah dalam satu ayat al-Qur’an terdapat penggunaan kata dakwah untuk arti kedua-duanya, yakni jalan kebaikan (syurga) dan jalan keburukan (neraka) sekaligus, seperti terdapat dalam surah al-Baqarah (2): 221.
Jadi, makna dakwah menurut bahasa bisa berarti ajakan kepada kebaikan dan bisa kepada kejahatan. Namun dalam penggunaannya secara peristilahan di lingkungan masyarakat Islam, term dakwah lebih dipahami sebagai usaha dan ajakan kepada jalan kebenaran atau jalan Tuhan, bukan jalan setan. Bahkan dalam perspektif ini, ajakan dan seruan  itu tidak dinamai dakwah  bila tidak dimaksudkan untuk membawa manusia ke jalan kebaikan.
Adapun pengertian dakwah menurut istilah telah banyak dikemukakan oleh para ahli atau pakar dakwah yang memberikan definisi menurut sudut pandang masing-masing, antara lain :
a.     Menurut Syech Ali Mahfudh, dakwah ialah :

حث النا س على الخير والهدى والا مر با المعروف والنهي عن المنكر ليفو )زوا بسعا دة  العا جل والا جل(  
 (Syekh Ali Mahfudh, 1952: 17)  
                                                                                            
Artinya:
Mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan petunjuk, menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan melarang mereka berbuat mungkar, agar mereka mendapatkan kebahagiaan di dinia dan akhirat.
b.    M. Isa Anshary (1984: 17) memberikan definisi bahwa dakwah Islamiyah artinya menyampaikan seruan Islam, mengajak dan memanggil umat manusia agar menerima dan mempeprcayai keyakinan dan pandangan hidup Islam.
c.     M. Amin Rais (1991: 25) berpendapat bahwa dakwah adalah setiap usaha rekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang Islami.
Dari beberapa pengertian dan definisi dakwah tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dakwah mempunyai dua pengertian dasar yaitu : Pertama, bermakna sempit (lughawy) yang  hanya terbatas pada seruan dan ajakan pada yang baik  (khair) yang bentuknya secara umum dengan bi al-lisan, yaitu ceramah/pidato dan juga bisa bi al-kitabah (tulisan). Kedua, bermakna luas (istilah) yang tidak terbatas pada anjuran dan ajakan melalui lisan saja, akan tetapi juga perbuatan nyata (da’wah bi al-hal) yang bentuknya bisa berupa pendidikan, ekonomi, sosial, dan  politik, serta lainnya.
Dakwah yang berpangkal dari pengertian sempit ini (bi al-lisan) lebih menunjukkan kepada cara-cara dalam  pengutaraan dan  penyampaian dakwah yang lebih berorientasi pada ceramah agama, yang pada saat sekarang ini berkembang menjadi disiplin retorika. Kemudian dakwah bi al-lisan (retorika) operasionalnya berkembang menjadi dakwah bi al-kitabah, yaitu dengan  tulisan  seperti di buku, tulisan-tulisan di surat kabar, majalah, dan lain-lain.
Selanjutnya, dakwah bi al-hal, yaitu dakwah yang mengarah kepada upaya mempengaruhi dan mengajak orang seorang, atau kelompok manusia (masyarakat) dengan keteladanan dan amal perbuatan, perkembangannya menjadi populer dengan nama dakwah pembangunan.
Dari uraian di atas, maka menurut penulis: dakwah adalah segala aktivitas yang bertujuan  untuk mengajak orang (masyarakat) kepada kebaikan dan melarang kepada kejahatan, baik secara lisan, tulisan, lukisan, maupun  perbuatan dengan metode dan media yang sesuai dengan prinsip Islam dengan tujuan mencapai kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

2.  Strategi Dakwah Modernitas
Sebelum membicarakan dakwah modernitas, sebaiknya apabila lebih dahulu membahas tentang komponen/unsur-unsur pokok dakwah sebagai sistem komunikasi yang efektif dalam proses pelaksanaan dakwah. Oleh karena itu, dakwah modernitas adalah dakwah yang dilaksanakan dengan memperhatikan unsur-unsur penting dakwah tersebut, kemudian subjek atau juru dakwah menyesuaikan materi, metode, dan media dakwah dengan kondisi masyarakat modern (sebagai objek dakwah) yang mungkin saja situasi dan kondisi  yang terjadi di zaman modern terutama dalam bidang keagamaman, tidak pernah terjadi pada zaman sebelumnya, terutama di zaman klasik.
Dengan demikian, berarti dakwah di era modern adalah dakwah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan masyarakat modern, baik dari segi materi, metode, dan media yang akan digunakan. Sebab mungkin saja materi yang disampaikan itu bagus, tetapi metode atau media yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat modern, maka dakwah akan mengalami kegagalan. Begitu pula sebaliknya, mungkin saja media atau metode yang digunakan sesuai dengan kondisi masyarakat modern, akan tetapi materi yamg disampaikan kurang tepat, apalagi bila tampilan kemasannya kurang menarik, juga dakwah akan mengalami kegagalan.
Oleh karenanya, untuk mencapai tujuan dakwah  yang efektif di era modern maka Juru dakwah seyogainya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, menyampaikan  materi atau isi pesan dakwah yang aktual, dengan menggunakan metode yang tepat dan relevan dengan kondisi masyarakat modern, serta menggunakan media komunikasi yang sesuai dengan kondisi dan kemajuan masyarakat modern yang dihadapinya.

Penutup
Dari urian yang dikemukakan di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Modernisme adalah suatu gerakan atau faham mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah faham-faham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahauan dan teknologi modern. Sedangkan modernitas adalah proses menyesuaikan faham-faham keagamaan dengan perkembangan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Jika dikaitkan dengan keagamaan Islam, maka itulah yang dikenal dengan pembaharuan dalam Islam.
2.    Masyarakat modern memiliki ciri-ciri : a) hubungan antarmanusia terutama didasarkan atas kepentingan pribadi; b) hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dengan suasana  yang saling  mempengaruhi; c) kepercyaan yang  kuat akan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahateraan masyarakat; d)  masyarakat modern tergolong  ke dalam bermacam-macam profesi yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, ketrampilan, dan kejuruan; e)  tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata; f) hukum yang berlaku adalah  hukum  tertulis yang sangat kompleks, dan g) ekonomi hampir seluruhnya merupakan ekonomi pasar yang didasarkan atas penggunaan uang dan alat-alat pembayaran lain.
3.    Dakwah  modernitas adalah dakwah  yang  pelaksanaannya  menyesuaikan materi, metode, dan  media dakwah dengan  kondisi  masyarakat  modern (sebagai objek dakwah)  yang mungkin saja situasi dan  kondisi yang terjadi di zamana  modern  itu tidak terjadi pada zaman sebelumnya, terutama di zaman klasik.


Daftar Rujukan

Abdul Majid, bin Aziz Al-Zindani, et.al. Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK. Jilid I, II, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

Anshari, H. Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat dan Agama. Cet.VII; Surabaya: Bina Ilmu, 1987.

Butt, Nasim. Sains & Masyarakat Islam. Diterjemahkan oleh : Masdar Helmy, dengan judul          asli: Science and Muslim Society. Cet. I;  Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

Kuper, Adam dan Jessica Kuper. Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial.  Cet. I;  Edisi kedua, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Cet. IV; Jakarta: Yayasan Wakaf             paramadina,      2000.

-----------------------. Islam Kemodrenan dan Keindonesiaan. Cet. XII; Jakaarta: Mizan, 1999.

Mahendra, Yusril Ihza. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam. Cet.I; Jakarta: Paramadina, 1999.

Munawar, Budhy Rachman. Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Cet. I; Bandung: Mizan, 2006. 

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan.  Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

--------------------. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jilid I, Cet.V; Jakarta: UI Press, 1985.

Noer, Deliar. Islam dan Masyarakat.  Cet. I; Jakarta: Yayasan Risalah, 2003.

Rais, M. Amien. Cakrawala  Islam Antara Cita dan Fakta.  Cet. III; Bandung: Mizan, 1991.

Shaleh, A. Rosyad. Management Da’wah Islam. Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Cet. I; Jakarta: Prenada media, 2003.

Yahya, Umar Toha. Ilmu Dakwah. Jakarta: Wijaya, 1971.

http://maxeeb.wordpress.com/2008.  Modernisme.