skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

PENDEKATAN KOMUNIKATIF (AL-MADHAL AL-ITTISHAL) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB


Oleh Kartini


Abstrak :   Communicative approach (al-madhal al-ittishali) in study of Arabic language that create to competition as  purpose study  that direct to procedure of language skill, that consist of attention (istima’), speaking (kalam), reading (qiraah), and writing (kitabah). Communication approach (al-madhal           al-ittishal) to stimulate students to learning activity. The used of communication approach activity, that is functional of communication language that another to share information and information process and social interaction activity that is dialog, simulation, debating, and another discussion activity.

Kata kunci :               Pendekatan Komunikatif (al-madhal al-ittishal), Pembelajaran, Bahasa Arab.

Pendahuluan
Pendekatan komunikatif yang dalam bahasa Arab disebut dengan al-madhal al-ittishali yaitu pendektan yang mempokuskan pada kemampuan komunikasi aktif dan praktis. Menurut pemerhati bahasa, pendekatan ini telah mengadakan terobosan baru yang strategis dibidang pengajaran bahasa kedua, dan dianggap sebagai pendekatan yang integral dan memiliki cirri-ciri yang pasti. Hal ini karena ia merupakan perpaduan strategi-strategi yang bertumpu pada suatu tujuan tertentu yang pasti, yaitu melatih menggunakan bahasa secara spontanitas dan kreatif.
Sasaran pendekatan ini adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa Arab pada situasi yang alami dengan sikap spontanitas kreatif, disamping penguasaan tata bahasa. Fokus pendekatan ini adalah menyampaikan makna atau maksud yang tepat sesuai dengan tuntunan dan fungsi komunikasi pada waktu tertentu.

Karakteristik Pendekatan Komunikatif
1. Sejarah Lahirnya Pendekatan Komunikatif
            Pada tahun 1960-an tradisi pembelajaran bahasa di Inggris mengalami perubahan cukup mendasar. Perubahan ini dipicu oleh asumsi baru tentang hakikat pembelajaran bahasa yang secara mendasar mengikuti asumsi-asumsi baru. Hal inilah yang mendorong munculnya pembelajaran Bahasa Komunikatif (Communikative Language Teaching).
            Pada tahun-tahun sebelumnya, situasional Language Teaching mendominasi percaturan pembelajaran bahasa Inggris. Pada “Situasional Language Teaching” dalam hal ini tertentu mirip dengan pendekatan komunikatif. Bahasa diajarkan dengan cara melatih siswa tentang struktur dasar dalam berbagai aktivitas yang didasarkan pada hal-hal yang bermakna. Pendekatan pembelajaran bahasa tersebut tidak dapat bertahan lama sebab ada bantahan-bantahan dari para pakar linguis di Amerika. Dalam pendekatan audiolingual sebagai bagian dari penerapan pendekatan Situasi Language Teaching. Selanjutnya, Howatt (dalam Tolla,1996) mengatakakan pendekatan Situasional Language Teaching merupakan suatu gagasan yang keliru karena memprediksi bahasa berdasarkan kejadian-kejadian situasional atau situasional tertentu. Pendekatan tersebut lebih seksama akan kembali pada konsep tradisional.
            Hal yang sama diungkapkan oleh Noam Chomsky seorang pakar linguistik Amerika Serikat dalam bukunya “Syntaktic Struktures” yang diterbitkan 1957 menunjukkan bahwa teori struktural terbukti tidak mampu menjelaskan karakteristik bahasa yang fundamental kreativitas (Purwo, 1990). Di samping itu, para pakar linguis terapan di Inggris menekankan pada dimensi bahasa yang mendasar lainnya yang belum tergarap secara memadai pada pendekatan pembelajaran bahasa yang telah berlaku saat itu, yaitu dimensi fungsional dan komunikatif. Menurut penilaian mereka, perlu ada pemberian perhatian yang cukup memadai dalam pembelajaran bahasa dengan menekankan pendekatan komunikatif daripada pendekatan struktural.
            Para sarjana yang memprakarsai pandangan tersebut, yaitu Christopher Candlin dan Henri Widdoson yang telah banyak mengkaji karya-karya linguis Fungsional Inggris, seperti John Firth, dan M.A.K. Halliday. Karya-karya yang bersifat sosiolinguistik, seperti Dell Hymes, John Gumperz dan william Labov dari Amerika. Karya-karya filsafat, seperti John Austin dan John Searle dari Amerika dan London (Tolla, 1996). 
            Dalam pandangan fundamental dalam kaitannya dengan hakikat pembelajaran bahasa merupakan embrio bagi pendekatan lain dalam pembelajaran asing yang bersumber dari perubahan realitas pembelajaran bahasa di Eropa dan membentuk suatu dewan yang dinamakan “Dewan Eropa” yang mendukung sepenuhnya terbentuknya Asosiasi Linguistik Terapan Internasional (Internasional Assosiasi of Applied Linguistics). Assosiasi ini dianggap sangat penting untuk mengembangkan dan menyebarluaskan metode-metode pembelajaran bahasa.
            Sebagai realisasi dari program-program perkumpulan tersebut, tahun 1971 mulai dikembangkan pembelajaran bahasa dalam suatu sistem kredit, yaitu sebuah sistem yang tugas-tugas pembelajarannya dipecah-pecah ke dalam bagian atau unit-unit. Setiap unit berhubungn dengan unit lainnya (Aleksander dalam Azies, 1996 :2). Upaya tersebut mulai dipertajam oleh D.A. Wilkins pada tahun 1972 dalam makalahnya berjudul “Grammatikal, Situasional an National Syllabus” yang disampaikan dalam konfrensi Linguistik Terapan di Copenhagen. Sejak itu kepopuleran pembelajaran bahasa secara komunikatif menyebar ke seluruh penjuru dunia dan mampu menggoyangkan konsep pembelajaran bahasa yang dikembangkan oleh kaum struktural. Dalam konferensi tersebut, Wilkins mendemonstrasikan sistem makna yang mendasari penggunaan bahasa secara komunikatif. Wilkins menguraikan dua jenis makna yaitu kategori nasional meliputi konsep-konsep seperti waktu, urutan, kuantitas, lokasi, frekuensi dan kategori fungsi komunikatif seperti penolakan, penawaran, keluhan dan sebagainya. Wilkins kemudian merevisi dan melengkapi makalahnya sehingga tersusun sebuah buku berjudul National Syllabuses (1976) dan memiliki pengaruh besar terhadap pembelajaran bahasa  komunikatif (PBK).
            Sekalipun pada mulanya gerakan ini tumbuh di Inggris, tetapi pada umumnny pengaruhnya meluas sampai ke Amerika pada pertengahan 1970-an. Para pendukungnya baik di Inggris maupun di Amerika sama-sama melihat sebagai suatu pendekatan bukan metode.
2. Pengertian dan Hakikat Pendekatan Komunikatif
Istilah pendekatan komunikatif yang pertama kali muncul di Inggris dengan nama Communicative Approach. Tujuan pendekatan ini adalah (a) menciptakan kompetensi sebagai tujuan pembelajaran bahasa dan (b) mengembangkan prosedur keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Tolla, 1996: 95). Selanjutnya, Littlewood (dalam Azies,1996: 4) menjelaskan bahwa salah satu ciri khas utama penmbelajaran bahasa komunikatif adalah pemberian perhatian sistematis terhadap aspek-aspek fungsional dan struktural bahasa. Berdasarkan ciri tersebut, maka ia menetapkan dua dimensi yang perlu diperhatikan dalam menyusun program pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif di antaranya adalah :
(1)   Dimensi yang berkaitan dengan perumusan tujuan keterampilan yang diperlukan pembelajar bahasa yang tidak hanya terbatas pada pemakaian struktur bahasa, tetapi juga penguasaan keterampilan yang lain, yaitu keterampilan bagaimana menghubungkan struktur-struktur tersebut dan fungsi-fungsi komunikasi sesuai dengan situasi peristiwa bahasa.
(2)   Dimensi yang berkaitan dengan jenis-jenis kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan pertama. Asumsinya adalah belajar berkomunikasi, tetapi yang lebih penting ialah pembelajar mampu menggunakan bahasa itu secara otomatis atau spontan.
Berdasarkan kedua dimensi di atas dapat dipahami bahwa kemahiran penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata sesungguhnya jauh  lebih penting dimiliki oleh para siswa dibandingkan dengan pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa (pendekatan struktural). Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa atau dari struktural ke fungsional. Dalam hal ini, bahasa lebih tepat dipandang sebagai sesuatu yang berkenaan dengan apa yang dapat dilakukan (fungsi) atau berkenaan dengan makna apa yang dapat diungkapkan (nosi) melalui bahasa dan bukan yang berkenaan dengan butir-butir bahasa. Dengan demikian, penggunaan bahasa untuk tujuan tertentu seperti:  menyapa, meminta maaf, menasihati, memuji atau mengungkapkan pesan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi (Pateda, 1991).
            Untuk lebih memahami hakikat pendekatan komunikatif secara mendalam ada delapan hal yang perlu dijelaskan yaitu:

(a) Teori Bahasa
Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi  semantik dan komunikatif dibandingkan pada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pada pendekatan komunikatif bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.
(b) Teori Belajar
Kegiatan belajar dikembangkan dengan  mengarahkan pembelajar ke dalam komunikasi nyata. Pembelajar dituntut pula untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah pemerolehan bahasa kedua secara alamiah. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari.
(c) Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai di dalam pembelajaran bahasa yang     berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan siswa. Karena kebutuhan siswa yang utama dalam belajar bahasa berkaitan dengan kebutuhan komunikasi. Oleh karena itu, tujuan umum pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompotensi dan performansi komunikatif).
(d) Silabus
Silabus harus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. Oleh     karena itu, dalam penyusunan silabus pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang harus diperhatikan ialah kebutuhan dan materi-materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan siswa.
(e) Tipe Kegiatan
Di dalam pembelajaran bahasa yang menggunakan pendekatan komunikatif, pembelajar diarahkan ke dalam situasi komunikasi nyata. Kegiatan komunikasi tersebut dapat berupa kegiatan tukar informasi, negoisasi makna, atau kegiatan berinteraksi.
(f) Peranan Guru
Dalam pembelajaran bahasa Arab, guru dapat berperan sebagai fasilitator dalam proses komunikasi, partisipan tugas dan teks, menganalisis kebutuhan, konselor, dan manajer kegiatan belajar mengajar dalam kelas.
(g) Peranan Siswa
 Dalam pembelajaran bahasa Arab pembelajar berperan sebagi pemberi dan penerima, sebagai negoisator dan interaktor dalam kegiatan pembeajaran bahasa Arab dengan pendekatan komunikatif pembelajar. Dengan demikian, para siswa tidak  diharuskan menguasai bentuk-bentuk dan makna-maknanya dalam kaitannya dengan konteks pemakaiannya.
(h) Peranan materi
Dalam pembelajaran bahasa Araba materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha peningkatan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. Materi ditempatkan sebagai bagian yang memiliki andil besar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, dalam pembelajaran bahasa komunikatif materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran (Sumardi, 1992).
Berdasarkan uraian di atas, maka pendekatan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Siswa diarahkan untuk dapat menggunakan bahasa, bukan mengetahui tentang bahasa dan bertujuan untuk membentuk kompetensi komunikasi, bukan semata-mata membentuk kompetensi kebahasaan, dengan memanfaatkan seluruh sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar.

3. Ciri-ciri Pendekatan Komunikatif
            Untuk menentukan ciri-ciri pendekatan komunikatif, landasan pokok yang berkenaan hal tersebut, adalah hakikat teori bahasa, hakikat belajar bahasa, dan hakikat pembelajaran bahasa.
a. Hakikat Teori Bahasa
          Pendekatan komunikatif pertama-tama berdasarkan pada teori bahasa sebagai komunikasi (language as communication). Teori bahasa yang secara khusus merupakan pengembangan pendekatan komunikatif. Teori ini bertentangan dari kebiasaan penekanan struktur bahasa. Dalam teori bahasa tersebut bahasa dilihat dari sistem gramatika sebagai sebuah sistem komunikasi di tingkat teori bahasa, pendekatan komunikatif memiliki landasan teoretis yang cukup kokoh (Pateda, 1991). Teori yang melandasi pendekatan tersebut adalah sebagai berikut: (a) Bahasa adalah sistem untuk mengungkapkan makna. (b) Fungsi utama bahasa adalah untuk interaksi dan komunikasi. (c) Struktur bahasa mencerminkan kegunaan fungsional dan komunikatifnya.
Teori lain yang juga melandasi pendekatan komunikatif adalah tentang fungsi bahasa yang diketengahkan oleh Halliday (dalam Pateda, 1991). Ketujuh fungsi bahasa tersebut sebagai berikut:  (a)   Fungsi instrumental yaitu menggunakan bahasa untuk memperoleh sesuatu. (b) Fungsi regulator yaitu menggunakan bahasa untuk mengontrol perilaku orang lain. (c) Fungsi interaksional yaitu menggunakan bahasa untuk menciptakan    interaksi dengan orang lain. (d)  Fungsi personal yaitu menggunakan bahasa untuk mengungkapkan perasaan dan makna. (e)  Fungsi teoristik yaitu menggunakan bahasa untuk belajar dan menemukan makna. (f)   Fungsi imajinatif yaitu menciptakan dunia imajinasi. (g) Fungsi representasional yaitu menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi.
b. Hakikat Belajar Bahasa
  Beberapa ahli ilmu bahasa terapan dalam pembelajaran bahasa, antara lain Brumfit, Johnson, serta Littlewood (dalam Syafi’ie, 1993) mengemukakan beberapa prinsip teori belajar bahasa yang menjadi dasar pendekatan komunikatif sebagai berikut:
1.    Untuk mendorong kegiatan proses belajar bahasa dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi yang sebenarnya. Berdasarkan prinsif ini, tidak berarti bahwa pembelajaran bahasa selalu berupa aktivitas berkomunikasi yang sebenarnya terjadi. Adapun kegiatan-kegiatan pembelajaran yang berupa latihan-latihan pemakaian bahasa bukanlah tujuan pembelajaran melainkan media untuk mencapai tujuan yakni kemampuan berkomunikasi oleh karena latihan-latihan menuju pendekatan komunikatif penggunaan bahasa bukan pengetahuan kebahasaan.
2.    Penciptaan kegiatan-kegiatan yang bermakna pada siswa dengan penggunaan bahasa akan mendorong proses belajar bahasa. Dari prinsif ini pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif sangat mengutamakan berbagai tugas yang bermakna bagi siswa.
3.    Bahasa yang bermakna bagi siswa akan mendorong proses belajar siswa. Berdasarkan prinsif ini, materi pembelajaran bahasa melalui pendekatan komunikatif adalah bahasa dalam pemakaian.
Selanjutnya, Angela Scarino (dalam Azies, 1996: 28-32) mengemukakan delapan prinsip belajar bahasa yang bercorak komunikatif sebagai berikut : (a) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik bila diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat. (b) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik bila ia diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam menggunakan bahasa sasaran secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. (c) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika ia dipajankan (exposed) ke dalam situasi komunikasi yang dapat dipahami dan relevan dengan kebutuhan dan minatnya. (d) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik, bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa. (e) Pembelajar akan belajar dengan baik bila ia memperoleh gambaran tentang data sosiokultural dan pengalaman budaya yang merupakan bagian dari bahasa sasaran. (f) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika ia menyadari peran serta hakikat bahasa dan budaya. (g) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika ia diberi umpan balik yang tepat yang menyangkut kemajuan mereka.

Hakikat Pembelajaran Bahasa
Dalam pembelajaran bahasa, pembelajaran adalah untuk mengembangkan kompetensi komunikatif para pembelajar yang mencakup kemampuan menafsirkan bentuk-bentuk linguistik baik yang dinyatakan eksplisit maupun implisit.
Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa sering diasosiasikan dengan silabus, tidak didasarkan pada tingkat kesukaran dan kerumitan butir struktur, tetapi didasarkan pada kebutuhan pembelajar. Dengan demikian, analisis kebutuhan merupakan hal yang mutlak perlu dilaksanakan sebelum pembelajaran bahasa pendekatan komunikatif.
Pendekatan komunikatif sebenarnya adalah pendekatan pada desain silabus bukan pendekatan pada metode pembelajaran bahasa. Dalam pendekatan tersebut materi disusun dengan memperhatikan fungsi-fungsi bahasa atau pemakaian bahasa. Materi yang baik untuk pendekatan pembelajaran yang memperhatikan fungsi bahasa karena didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan komunikasi pembelajar dan tidak didasarkan pada sistematika butir-butir bahasa.
Materi yang terdapat dalam pembelajaran bahasa adalah materi yang berupa teks, materi yang berorientasi pada tugas, dan materi yang berupa benda yang sebenarnya. Mengacu pada ketiga bentuk materi tersebut, maka ada beberapa prinsip yang perlu diketahui di antaranya : (a) Materi harus menunjang tujuan-tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum. (b) Materi yang disusun mengacu pada keperluan dan autentik. (c) Materi harus dapat menstimulasi terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa. (d) Materi yang disajikan harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat memperhatikan bentuk-bentuk bahasa. (e) Materi harus dapat memberikan dorongan pembelajar untuk mengembangkan keterampilan belajar. (f) Materi harus dapat menciptakan pembelajar menerapkan keterampilan berbahasa (Syafi’ie, 1997).
Berdasarkan uraian pada landasan pendekatan komunikatif di atas, maka ciri-ciri pendekatan komunikatif dapat dinyatakan sebagai berikut: (a) Pendekatan komunikatif dapat menunjukkan aktivitas yang realistis untuk mendorong pembelajar untuk belajar. (b) Melalui aktivitas-aktivitas bahasa bertujuan untuk mengerjakan tugas-tugas yang mendorong pembelajar untuk belajar. (c) Materi dan silabus dipersiapkan setelah melakukan analisis mengenai kebutuhan (needs) pembelajar. (d) Penyajian materi dan aktivitas dalam kelas berorientasi pada pembelajar. (e) Cara berperan sebagai penyuluh, penganalisis kebutuhan pembelajar, dan manajer kelompok. Untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulis yang wajar. (f) Peranan materi dapat menunjang komunikasi pembelajar secara aktif (Subiyakto, 1993: 70-73).

Prosedur Pembelajaran Bahasa dalam Pendekatan Komunikatif
Secara umum, tujuan pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif adalah mempersiapkan pembelajar untuk melakukan interaksi yang bermakna dengan cara mengikhtiarkan pembelajar untuk mampu memahami dan menggunakan bahasa secara alamiah. Pengelolaan kelas bahasa yang mencerminkan penggunaan bahasa yang alamiah, yakni penggunaan bahasa yang nyata sesuai dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Berkenaan dengan prosedur pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif ini, Finochiaro dan Brumfit menawarkan garis besar pembelajaran pada tingkat sekolah menengah pertama. Garis besar kegiatan pembelajaran yang ditawarkan kedua tokoh tersebut dapat disimpukan sebagai berikut:  (a) Penyajian dialog singkat, yaitu penyajian dialog singkat ini sebaiknya didahului dengan pemberian motivasi dengan cara menghubungkan situasi dialog tersebut dengan pengalaman pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. (b) Pelatihan lisan dialog yang disajikan, yaitu pelatihan lisan dialog ini biasanya diawali dengan contoh yang dilakukan oleh guru. Para siswa mengulang contoh lisan gurunya, baik secara bersama-sama dilakukan oleh seluruh siswa, setengahnya, sekelompok kecil, maupun individual. (c) Tanya jawab, yaitu tanya jawab ini dapat dilakukan pada dua fase. Pertama, tanya jawab yang berdasarkan topik dan situasi dialog. Kedua, tanya jawab tentang topik itu dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman pribadi siswa. (d) Pengkajian, yaitu para siswa diajak untuk mengkaji salah satu ungkapan yang terdapat dalam dialog. Lalu para siswa diberi tugas untuk memberikan contoh ungkapan lain yang fungsi komunikatifnya sama. (e) Penarikan kesimpulan, yaitu para siswa diarahkan untuk membuat kesimpulan tentang kaidah bahasa yang terkandung dalam dialog. (f) Aktivitas Interpretatif, yaitu pada langkah ini, para siswa diarahkan untuk menafsirkan (menginterpretasikan) beberapa dialog yang dilisankan. (g) Aktivitas Produksi lisan, yaitu Aktivitas produksi lisan (berbicara) dimulai dari aktivitas komunikasi terbimbing sampai kepada aktivitas yang bebas. (h) Pemberian Tugas, yaitu memberikan tugas tertulis sebagai pekerjaan rumah. Dan (1) Evaluasi, yaitu evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan (Tarigan, 1988: 280).
Harmer (dalam Pateda, 1991) mengemukakan pula bahwa tahap-tahap pembelajaran bahasa komunikatif harus dimulai dari aktivitas nonkomunikatif, menuju aktivitas komunikatif. Dalam fase kegiatan untuk berkomunikasi dan tujuan berkomunikasi. Selanjutnya, Littlewood mengatakan (dalam Saadie, 1998) bahwa penggunaan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa ada dua kegiatan yang harus diketahui, yaitu kegiatan komunikasi fungsional dan kegiatan interaksi sosial. Kegiatan komunikasi fungsional meliputi antara lain kegiatan saling membagi informasi dan mengolah informasi. Kegiatan interaksi sosial meliputi dialog, simulasi, memerankan lakon pendek yang lucu, improvisasi, berdebat dan melaksanakan berbagai bentuk diskusi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat memberikan suatu indikasi bahwa dalam pembelajaran bahasa yang menggunakan pendekatan komunikatif guru bahasa dapat menggunakan alternatif prosedur yang memungkinkan terciptanya pembelajaran yang dinamis.

Kesimpulan
Berdasarkan dengan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.       Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Arab dalam pendekatan komunikatif diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan.
2.       Tujuan pendekatan komunikatif yaitu, membentuk kompetensi sebagai tujuan penmbelajaran bahasa dan mengembangkan prosedur keterampilan berbahasa.
3.       Ciri khas pembelajaran bahasa Arab dalam pendekatan komunikatif adalah pemberian perhatian sistematis terhadap aspek fungsional dan struktur bahasa.
4.       Kemahiran menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata sesungguhnya lebih penting dimiliki para siswa disbanding dengan pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa.
5.       Hakikat pendekatan komunikasi meliputi teori bahasa, teori belajar, tujuan, silabus, tipe kegiatan, peranan guru, peranan siswa, dan peranan materi.
6.       Ciri-ciri pendekatan komunikatif di antaranya adalah : (a) pendekatan komunikatif menunjukkan aktivitas yang realistis untuk menstimulasi pembelajar untuk belajar, (b) materi dari silabus dipersiapkan setelah dilakukan analisis kebutuhan pembelajar, (c) penyajian materi dan aktivitas dalam kelas berorientasi kepada pembelajar, (d) guru berperan sebagai penyuluh, penganalisis kebutuhan pembelajar dan menejer kelompok untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.

Daftar Rujukan

Azies, Furqanul dan A. Chaedar Alwasilah. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Pateda, Mansur. 1991. Linguistik Terapan. Flores: Nusa Indah.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Kanisius

Saadie, Ma’mur. 1998. Pendekatan Komunikatif dalam Penggunaan Bahasa Indonesia. Jakarta : Proyek Penataran Guru SLTP Setara D3 Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud.

Subiyakto, Sri Utari N. 1993. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Sumardi, Muljanto. 1992. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Syafi’ie, Imam. 1996. Terampil Berbahasa Indonesia 1; Petunjuk Guru Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Umum Kelas 1. Jakarta: PT General Bhakti Pertama.

Syafi’ie, Imam. 1997. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tarigan, H.G. 1988. Metode Pengajaran Bahasa. Bandung: Angkasa.

Tolla, Ahmad. 1996. Kajian Pendekatan Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di SMU di Kotamadya Ujung Pandang. Tesis. Malang: IKIP Malang.

Zainuddin, Radliyah. 2005. Metodologi dan Strategi Alternaif Pembelajaran Bahasa Arab. Cirebon: STAIN Cirebon Pres.