skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

BAHASA DAN DAKWAH


Oleh Edhy Rustan

Abstrak :   In this paper, intended as propaganda activities of the delivery of messages or calls to the adherents of religion, both orally and in writing, for followers of the religion in question can take the wisdom and obey the rules of his religion. Language serves as a communication tool that can’t be separated from development mission. Language and propaganda is associated in the history and implementation. As an activity that uses language as the main media, propaganda can be used as a means of fostering and development of language. Besides this, use language properly and correctly by the person giving da'wah will be a model for the congregation speaking.
                  
Kata kunci : bahasa, dakwah 

Pendahuluan
Bahasa memegang peranan yang sangat vital dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Dapat dibayangkan bagaimana nasib manusia jika tidak memiliki bahasa sebagai media komunikasi dalam segala aspek kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang berpikir dan berbudaya karena memiliki bahasa. Dengan bahasalah manusia dapat berpikir dan menyatakan sesuatu kepada orang lain. Selanjutnya karena manusia berpikir dan berbudaya, maka manusia berbeda dengan binatang. Binatang tidak dapat berpikir dan berbudaya sebagaimana manusia karena tidak mempunyai bahasa.
Salah satu aspek kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari peranan bahasa adalah dakwah (kegiatan berdakwah). Dakwah merupakan suatu proses penyampaian pesan atau informasi kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai sarana penyampaiannya. Banyak  pesan dakwah yang tidak sampai kepada khalayak karena kegagalan penggunaan bahasa di dalam menyampaikannya. Bahasa yang digunakan tidak komunikatif sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik oleh khalayaknya. Karena kegagalan penggunaan bahasa, dakwah yang disajikan terasa kering, gersang, dan hambar.
Begitu pentingnya bahasa dalam pengembangan dakwah, maka bahasa yang digunakan sebagai sarana pengantarnya perlu diperhatikan dengan baik. Khusus dakwah yang disampaikan secara lisan, selain factor bahasa, ada hal lain yang juga memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan dakwah. Hal itu adalah pembicara atau orang yang menyampaikan dakwah tersebut.  Sehubungan dengan uraian di atas, tulisan ini akan membicarakan tentang hal-hal berikut.
1.       Bagaimanakah peranan bahasa dalam pengembangan dakwah?
2.       Bagaimanakah menjadikan dakwah sebagai sarana pembinaan dan pengembangan bahasa?
3.       Hal-hal apa sajakah yang perlu diperhatikan oleh pembicara atau orang yang menyampaikan dakwah agar dakwahnya berhasil?

Peranan Bahasa dalam Pengembangan Dakwah
Sebelum menguraikan tentang peranan bahasa dalam pengembangan dakwah, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian dakwah. Pada bagian pendahuluan dikatakan bahwa dakwah merupakan suatu proses penyampaian pesan atau informasi kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai sarana penyampaiannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dakwah diartikan sebagai penyiaran atau propaganda; penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama (1997: 205). Selanjutnya, menurut definisi Alquranul Karim, dakwah adalah undangan menuju kepada semua yang baik dan harus dilaksanakan dengan rendah hati, bijaksana, dan penuh santun (Abidin Ass, 1996: 8).
Dalam tulisan ini, dakwah dimaksudkan sebagai kegiatan penyampaian pesan-pesan atau seruan agama kepada pemeluknya, baik secara lisan maupun secara tertulis, agar pemeluk agama bersangkutan dapat mengambil hikmah dan menaati aturan agamanya.
Upaya penyebarluasan seruan agama kepada pemeluknya tidak dapat lepas dari bahasa sebagai medium utamanya. Beberapa peristiwa sejarah penyebaran agama telah membuktikan besarnya peranan bahasa dalam kegiatan dakwah.
Penyebaran agama Kristen misalnya. Pada tahun 1622 Paus Gregorius XV  membentuk sebuah komisi yang disebut Komisi Kardinal yang bertujuan menumbuhkan keimanan Kristiani di beberapa negara. Secara khusus misionaris itu ditugasi untuk menyebarkan doktrin Kristiani tersebut supaya bisa menarik beberapa ribu pemeluk baru (Nimmo, 1993: 124). Kegiatan ini tentu saja memanfaatkan bahasa untuk menjamin keberhasilan misinya. Para misionaris dalam kegiatan ini memaksimalkan peranan bahasa dalam fungsinya sebagai alat propaganda. Bahasa sebagai alat propaganda dapat digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu.
Begitu pula dalam penyebaran agama lain, seperti agama Islam pada zaman Nabi Muhammad Saw. Pada mulanya agama Islam hanya disebarkan di kalangan keluarga dan kerabat Nabi Muhammad, kemudian secara berangsur-angsur menyebar ke seluruh pelosok tanah Arab, dan bahkan ke luar wilayah Arab. Penyebaran itu berkat adanya bahasa yang berfungsi sebagai sarana penyampai pesan atau informasi.
Peranan bahasa sebagai sarana pengembangan dakwah juga dapat diamati dalam sejarah penyebaran agama di Indonesia, terutama dalam penyebaran agama Islam. Agama Islam masuk di Indonesia diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Parsi dan Gujarat. Mereka memperkenalkan agama Islam  di daerah-daerah pantai yang menjadi pusat-pusat perdagangan pada waktu itu. Dalam perkembangannya, agama Islam telah menyebar hampir ke seluruh pelosok nusantara. Di mana-mana berdiri kerajaan-kerajaan Islam. Akibatnya dapat dilihat sekarang, Indonesia berpenduduk mayoritas muslim. Penyebaran Islam yang begitu cepat dan menjangkau wilayah yang sangat luas itu, tentu saja karena peranan bahasa.
Di Indonesia khususnya, peranan bahasa dalam pengembangan dakwah terlihat semakin meningkat. Hal itu dibuktikan oleh semakin banyaknya tayangan acara televisi tentang penyiaran agama, misalnya mimbar agama Islam, mimbar agama Kristen, mimbar agama Hindu, dan Mimbar agama Budha. Bukti lain yaitu, semakin banyaknya penerbitan buku keagamaan yang diterbitkan setiap tahunnya. Kedua hal ini semakin menunjukkan betapa besarnya peranan bahasa dalam kegiatan dakwah. Dengan bahasalah dakwah disampaikan secara lisan dan secara tertulis, seperti disebutkan di atas. Memang, tanpa bahasa tak ada yang terpikirkan dan tak ada yang terkatakan.
Selanjutnya, penggunaan bahasa pulalah yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan dakwah. Sebagai gambaran, dapat dilihat dan diamati bagaimana para da’i kondang, seperti Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, dan Jefri Albukhari dalam meyampaikan pesan-pesan kebenaran dalam agama Islam. Bagaimana para pendeta Kristiani, Hindu, dan Budha dalam berupaya memberikan pemahaman tentang agamanya kepada khalayak. Mereka semua tentu saja berupaya mengemasnya dengan bahasa yang menarik dan dengan gaya masing-masing.   
Para remaja lebih tertarik kepada gaya penyampaian dakwah Ustad Jefri, kalangan orang tua lebih senang kepada gaya penyampaian dakwah Arifin Ilham, semua tingkatan usia menyenangi gaya penyampaian dakwah Aa Gym (Abullah Gymnastiar), dan lain-lain. Perbedaan itu lebih dikarenakan oleh teknik pemanfaatan bahasa yang bermacam-macam. Keberhasilan mereka dalam menarik perhatian khalayak tentu saja tidak dapat dipungkiri. Semua itu karena kelihaian mereka dalam “memainkan” bahasa.

Dakwah sebagai Sarana Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Sebagai kegiatan yang menggunakan bahasa sebagai media utamanya, dakwah dapat dijadikan sebagai sarana pembinaan dan pengembangan bahasa. Hal itu dimungkinkan karena dalam kegiatan dakwah terjadi interaksi antara seseorang dengan orang lain. Untuk membina dan mengembangkan suatu bahasa, maka peggunaan bahasa dengan baik dan benar dalam interaksi tersebut secara tidak langsung akan menjadi model atau pajanan berbahasa bagi orang lain yang mendengarkan penggunaan bahasa tersebut.
Sejarah perkembangan bahasa Melayu pada jaman sebelum kemerdekaan misalnya dapat dijadikan contoh. Awalnya, bahasa Melayu hanya dikuasai oleh kelompok masyarakat Melayu sendiri. Oleh karena bahasa Melayu digunakan terus-menerus oleh mereka dalam kegiatan perdagangan pada waktu itu, maka secara perlahan-lahan orang-orang yang turut terlibat dalam kegiatan itu dapat memahami dan akhirnya menguasai bahasa Malayu. Bahasa Melayu kemudian tidak hanya menjadi milik etnis Melayu, tetapi hampir seluruh nusantara telah menguasainya.
Demikian pula halnya, jika ingin menjadikan dakwah sebagai sarana pengembangan dan pembinaan bahasa, misalnya bahasa Indonesia. Dalam kegiatan dakwah seyogyanya digunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa Indonesia secara serampangan mestinya dihindari. Kesalahan berupa penggunaan kata depan, pilihan kata, pelafalan, dan kata-kata berlebihan, mestinya tidak dianggap enteng.
Berikut ini dapat dilihat beberapa kesalahan yang lazim dilakukan seseorang dalam berdakwah.

Jenis
Salah
Tepat
Kata depan
…kita bersyukur atas nikmat   yang diberikan  kepada Allah Swt.
…kita bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.
Pilihan kata
Orang-orang mati
Orang-orang meninggal…
Kata-kata berlebihan
Adalah merupakan
(gunakan salah-satunya sesuai konteks)
Pelafalan
…ilmu dan teknologi
Ilmu dan tehnolohi

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam dakwah yang disampaikan secara lisan memang diakui sangat sulit diwujudkan secara penuh. Alasannya sangat jelas, yaitu karena bahasa lisan adalah bahasa spontanitas. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam dakwah yang disampaikan secara lisan kadang-kadang membuat khalayak jenuh dan tidak tertarik.
Namun demikian, karena pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia, maka seyogyanya dalam dakwah pun perlu diperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu sebagai cerminan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, sebagaimana ditegaskan oleh Halim (1978:8), bahwa sikap positif terhadap bahasa Indonesia adalah sikap penutur bahasa Indonesia yang setia, bangga, dan sadar akan norma bahasa Indonesia.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pembicara atau Orang yang Menyampaikan Dakwah

Berbicara di depan umum memerlukan teknik-teknik tertentu. Penguasaan teknik yang digunakan dalam menyajikan pikiran atau gagasan secara lisan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang pembicara atau orang yang akan menyampaikan dakwah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembicaraan atau dakwah berhasil adalah sebagai berikut.
a)   Pembicara harus Memiliki Keberanian dan Tekad yang Kuat
Keberanian merupakan hal yang sangat mendasar. Tanpa keberanian atau keberanian yang setengah-setengah akan mengakibatkan kacaunya pembicaraan. Hal lain yang perlu dimiliki oleh seorang pembicara adalah keberanian atau tekad yang kuat. Tekad yang kuat akan menghilangkan keragu-raguan dan menambah kepercayaan terhadap diri sendiri. Seorang pembicara akan mampu bersikap tenang, tidak kaku ataupun canggung di depan khalayak jika memiliki tekad yang kuat dan kepercayaan terhadap diri sendiri.
b)  Pembicara harus Memiliki Pengetahuan yang Luas
Seorang pembicara atau orang yang akan menyampaikan dakwah harus menguasai materi yang akan disampaikannya agar isi dakwahnya dapat disampaikan dengan lancar dan teratur.
c)   Pembicara harus Memahami Komunikasi Massa
Pemahaman pembicara terhadap proses komunikasi massa dapat diawali dengan menganalisis pendengar dan situasi.
d)  Pembicara harus Menguasai Bahasa yang baik dan Lancar
Seorang pembicara yang menguasai bahasa yang baik dan lancar, tentu saja memiliki perbendaharaan kosa kata yang memadai. Dengan kosa kata yang memadai, seorang pembicara akan dapat menyampaikan isi dakwahnya dengan kata-kata yang bervariasi sehingga tidak membuat khalayak bosan atau salah paham.
Selanjutnya, agar dakwah yang disampaikan itu bisa lebih efektif, seorang pembicara harus mempersiapkan beberapa hal sebelum tampil di depan khalayak. Hal-hal itu dikemukakan berikut ini.
1)      Menentukan Maksud atau tujuan Dakwah
Menentukan maksud atau tujuan dakwah perlu dilakukan karena hal itu yang mengarahkan pembicara menentukan topik/pokok pembicaraan yang akan disampaikan. Misalnya, jika tujuan yang diharapkan adalah agar khalayak memahami tentang pentingnya sholat, maka pembicara harus berbicara tentang sholat dalam dakwahnya.
2)      Menganalisis Pendengar dan Situasi
Agar tujuan pembicaraan dapat tercapai, seorang pembicara harus mengetahui situasi yang melatari dan keadaan yang calon pendengar/khalayak. Sehubungan dengan analisis pendengar ini, Keraf (1980) menyatakan beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pembicara tentang calon pendengarnya, yaitu: perkiraan jumlah pendengar, jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan pendidikan pendengar.
Adapun analisis situasi meliputi lokasi, kondisi lingkungan, waktu, dan sarana yang akan digunakan.
Seorang pembicara yang melakukan analisis pendengar dan situasi sebelum tampil di depan khalayak akan mampu mempengaruhi khalayak secara efektif.
3)      Memilih Materi Dakwah
Materi dakwah yang dipilih harus actual, artinya materi harus disesuaikan dengan persoalan yang banyak menyentuh khalayak atau disesuaikan dengan peristiwa tertentu.
4)      Mengumpulkan Bahan Pembicaraan
Kegiatan mengumpulkan bahan pembicaraan sangat penting agar dapat menghasilkan dakwah yang berbobot. Yang perlu diperhatikan dalam mengumpulkan bahan ini adalah bahan pembicaraan harus benar-benar terpercaya dan didukung oleh bukti-bukti yang kuat.
5)      Membuat kerangka Uraian
Hal ini perlu dilakukan, karena secara umum sesuatu yang sudah direncanakan atau diorganisasikan dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada yang tidak direncanakan lebih awal.
Beberapa hal di atas jika diperhatikan dengan cermat dan dilaksanakan dengan baik oleh seorang pembicara akan menghasilkan pidato yang efektif, dan tentu saja khalayak akan tertarik atau tidak jenuh.

Penutup
Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan media yang tidak dapat dilepaskan dari pengembangan dakwah. Bahasa mempunyai peranan yang sangat besar dalam sejarah perkembangan dakwah.
 Sebagai kegiatan yang menggunakan bahasa sebagai media utamanya, dakwah dapat dijadikan sarana pembinaan dan pengembangan bahasa. Penggunaan bahasa dengan baik dan benar oleh orang yang menyampaikan dakwah akan menjadi model berbahasa bagi pendengarnya/khalayak.

Daftar Rujukan

Abidin Ass, Djamalul. Komunikasi dan Bahasa Dakwah. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Halim, Amran (Ed). Politik Bahasa Nasional (Jilid 1 dan 2). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976.

Keraf, Gorys. Komposisi. Ende: Nusa Indah, 1980.

Nimmo, Dan. Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Basar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1997.