skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

MODERNISASI DAN GAYA HIDUP


0leh Wahyuni Husain

Abstract :  Modernization is a continous process that have been lasting beyond the time. It effort the various product like a life pattern, culture, life style, and many other aspects. The existence of modernism is not only to supply ease for human being, but also to create a bad, impact which is more prominent, such as the appearance of consumerism among the society due to the economic development which move more globally. The characteristics of such an appearance are seen at the preference over the west culture, instant life style, consumerism that is eventually deteriorated by a hedonism.
Kata Kunci :   modernisme, modernisasi, gaya hidup, konsumtif, budaya populer, hedonisme.

Pendahuluan
Teori pembangunan dalam ilmu sosial dapat dibagi kedalam dua paradigma besar yakni modernisasi dan ketergantungan (Lewellen,1995; Larrain 1994; Kieli 1995). Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro dan pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan.
Akar historis modernisme berawal dari jaman pencerahan, Renaissance  (1350-1600). Dalam era tersebut masyarakat Eropa membangkitkan kembali kebudayaan Yunani dan Romawi kuno dan banyak inspirasi rasional yang ditimba darinya sehingga kecenderungan berpikir dalam era tersebut mulai mengarah pada kegelapan dogmatis abad pertengahan yang dikuasai cara berpikir gereja. Faktor iman dan kepatuhan pada otoritas gereja mendapat porsi besar. Pada saat itu muncullah filsuf-filsuf kritis yang pemikirannya hingga kini menentukan irama zaman seperti Kant, Hegel, Marx, Comte, Nietzsche, Sartre dan sebagainya. 
Seiring perkembangan peradaban manusia, turut pula menentukan berkembangnya  modernisme yang bergerak dari paham Theosentris kepada Antroposentris. Aliran Theosentris menyatakan bahwa Tuhan menjadi sentra pemikiran kefilsafatan sementara yang terakhir manusia menjadi pusatnya. Dengan Theosentris manusia mengarahkan orientasi dan dasar hidupnya bagi kepenuhan hidup kerohaniahan untuk mencapai keselamatan jiwa, sementara antroposentris manusia berusaha menggapai kelimpahan dan kenikmatan kebutuhan secara sporadis dan temporer.
Teori modernisasi dicirikan oleh pemakaian istilah-istilah: "modern", "pembangunan", "pertumbuhan ekonomi", "diferensi institusional", dan "pembangunan bangsa" (nation building). Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, maka pola dan gaya hidup individu berubah pula. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai proses perkembangan modernisasi yang melahirkan pola hidup konsumtif di kalangan masyarakat. 

Pembahasan
Paradigma modernisasi muncul setelah Perang Dunia II, terutama awal tahun 1950-an. Dalam paradigma ini telah berkembang beragam teori sesuai dengan cara pandang masing-masing penemuannya. Diantara mereka adalah Rostow (1960) Hagaen (1962), Lerner (1964), Eisenstadt (1966), Smelser (1966), McClelland (1976), Parsons (1966), dan Inkeles dan Smith (1964).
Di dalam paradigma modernisasi ditemukan dua pendekatan pokok, struktural (makro) dan sosial-psiklogis (mikro) (Portes 1976). Dalam pedekatan stuktural, modernisasi dianggap sebagai perubahan sosial, ekonomi dan politik melalui evolusi, sebagaimana terjadi di Eropa Barat terutama pada abad ke-18 dan 19. Pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada perubahan sosial yang terjadi pada struktur makro. Modernisasi dan rasionalisasi dan lembaga ekonomi dan sosial dalam sebuah masyarakat atau bangsa merupakan pusat perhatian mazhab ini, sehingga disebut teori modernisasi struktural.
Dalam pendekatan sosial-psikologis (mikro), faktor pendorong perubahan sosial dan pembangunan bukan karekteristik individu pada tingkat. Pendekatan ini mencurahkan perhatian pada faktor-faktor nilai dan norma yang berlaku atau yang dianut oleh masyarakat tradisionaldan moderen. Pendapat dalam aliran modernisasi ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman sejarah perubahan sosial di Eropa Barat, sejak masyarakat feudal/ pertanian sebagai kapitalis /industri. Mereka melihat bahwa sepanjang masyarakat kapitalis Eropa setiap tantang atau kebutuhan yang muncul, selalu diikuti oleh pemecahannya dengan cara pemenuhan kebutuhan.
Penggunaan rasio sebagai piranti melahirkan ilmu, pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat dasar bagi lahirnya modernitas. Magnis-Suseno, mencirikan masyarakat modern sebagai berikut: 1) Masyarakat modern pertama-tama adalah masyarakat yang berdasarkan industrialisasi. Industrialisasi menjadi darah daging masyarakat modern dan menjadi format dasar yang bukan hanya bidang ekonomi, melainkan seluruh kehidupan masyarakat, penghayatannya, way of life dan sebagainya. 2) Implikasi dari industrialisasi adalah perubahan total dan mendalam dalam gaya hidup manusia. Perubahan itu menyangkut semua bidang kehidupan dan yang paling mencolok adalah penciptaan jalur-jalur komunikasi lokal, regional dan global yang amat padat dan cepat. Sarana lalu lintas mengalami perkembangan revolusioner dan manusia difasilitasi mesin-mesin yang mempermudah pekerjaan. 3) Industrialisasi tingkat pertama sudah dilalui oleh negara-negara industri. Teknologi merupakan ilmu baru, yakni ilmu yang secara khusus yang meneliti kekuatan-kekuatan alam dengan maksud untuk memanfaatkanya bagi produksi industrial. Gelombang pasca-industri kiranya akan melahirkan masyarakat informasi. 4) Masyarakat modern adalah masyarakat — yang kecuali dalam keadaan darurat dan luar biasa — tidak mengalami ketergantungan pada alam. Muncul kesan bahwa dengan otonomi rasionya apa saja bisa diciptakan manusia serta semua masalah dapat dipecahkan. 
Sementara itu, sumber-sumber masyarakat modern adalah: Pertama, kapitalisme dan revolusi industri. Pelbagai bentuk ekonomi kapiltalis sudah dikenal sejak sebelum abad ke 17 yang ditandai munculnya kota-kota pelabuhan.   Tetapi kapitalisme dalam arti khas sebagai suatu sistem yang memicu revolusi perekonomian lahir di Eropa Barat dan Utara (Inggris, Belanda, Belgia, Perancis) pada abad ke 17. Hakekat kapitalisme adalah bahwa tujuan produksi bukanlah konsumsi melainkan penambahan modal. Kapitalisme bersifat dinamis, sebab selalu berusaha memperluas produksi guna menguasai pasaran. 
Kedua, penemuan subyektivitas modern. Dengan subyektivitas dimaksudkan bahawa manusia, dalam memandang alam, sesama dan Tuhan mengacu pada dirinya sendiri. Manusia dalam subyektivitasnya, dengan kesadarannya, serta keunikannya menjadi titik acuan pengertian realitas. Subyektivitas dalam konterks ini mengacu pada Hegel dan Sartre. Menurut Hegel (1770-1832) manusia itu bukan substansi, melainkan subyek. Substansi disini dimaksud sebagai kepadatan kebendaan, sebagai sesuatu  yang berada di dunia ibarat sebongkah batu di tengah sawah. Sedangkan subyek adalah pusat kesadaran, kesadaran akan kesadaran, pusat yang secara kritis melawankan diri terhadap relaitas dan dunia. Manusia tidak sekedar “hadir” dalam dunia, melainkan  hadir dengan “sadar”, dengan berpikir, dengan berefleksi  serta mengambil jarak secar kritis dan bebas. 
Ketiga, rasionalisme. Dengan rasio-nalisme dimaksud tuntutan agar semua klaim dan wewenang dipertanggungjawabkan secara argumentatif, tanpa pengandaian kepercayaan, jadi dapat diuniversalkan. Segi-segi rasionalisme: 1) Ciri pertama adalah kepercayaan terhadap kekuatan akal budi manusia. Segala hal harus dimengerti secara rasional. Suatu pernyataan hanya boleh diterima sebagai benar, dan sebuah klaim hanya dapat dianggap sah apabila dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. 2) Penolakan tradisi, dogma dan otoritas di luar pemikiran rasional. Dalam bidang siosial politik, misalnya, rasionalisme menuntut kepemimpinan rasional. Pada bidang agama, klaim dogma tidak dapat begitu saja ditetapkan oleh otoritas religius. 3) Rasionalisme mengembangkan metode baru bagi ilmu, pengetahuan dan teknologi, yakni pengamatan dan eksperimen serta bertumpu pada dalil-dalil ilmiah. 4) Rasionalisme membawa serta sekularisme. Sekularisasi ialah suatu pandangan dasar dan sikap hidup yang dengan tajam membedakan antara Tuhan dan dunia sebagai sesuatu yang duniawi saja. Sekularisme menghilangkan unsur-unsur gaib dan keramat. Modernisme adalah sebuah proses yang amat ambivalen, yang akan berjalan terus entah kita menyetujuinya atau tidak. Betapa dilematisnya modernisme yang dikonstruksi atas kemajuan iptek dapat dicermati dari kegalauan Robert Morisson, pemikir teknologi terkemuka dari Massachusets. Ia berkisar: "They are so very good at getting you to Paris in three hours, but so very poor at telling you what to do when you get there"
Modernisme adalah sebuah proses yang terus berlangsung dari masa ke masa dan menghasilkan berbagai produk berupa pola hidup, kebudayaan dan banyak aspek lainnya. Fenomena modernisme, yang diyakini sebagai pilihan tepat membebaskan manusia dari situasi ketertinggalan, keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, meski dalam arti terbatas menunjukkan kemajuan yang cukup spektakuler, tetapi juga menyisakan persoalan-persoalan yang cukup rumit dan kompleks. Penggunaan rasio melahirkan kemajuan iptek yang menjadi embrio ekspansi wilayah (imperialisme) dan kononialisme. Modernisme, dengan demikian, disamping menawarkan kemudahan-kemudahan bagi manusia, juga memproduksi model-model belenggu baru yang jauh lebih dahsyat. Peter L. Berger mengisyaratkan bahwa modernisme yang dicirikan oleh kemajuan iptek tidak lebih dari ideologi yang menutup-nutupi kenyataan imperialisme, eksploitasi, dan ketergantungan. Justifikasi pernyataan Berger ialah kenyataan lahirnya korelasi a-simetris antara bangsa barat yang menguasai dan mendominasi iptek dengan seperangkat nilai budayanya dengan bangsa Timur yang diberi atribut: underdeveloped countries yang diperhalus dengan istilah developing countries.
Heru Nugroho (1996) mencermati munculnya perilaku konsumtif di kalangan masyarakat dan generasi muda sebagai implikasi pembangunan ekonomi yang kian mengglobal. Bagi generasi muda hal ini terlihat pada kegandrungan terhadap budaya Barat seperti musik pop, gaya hidup ABG, gaya hidup instant dan sebagainya. Bahkan, perilaku konsumtif tersebut sudah mengarah pada hedonisme, yakni gaya hidup yang mengutamakan kenikmatan kebutuhan semata yang indikasinya adalah meningkatnya fenomena free sex, pemakaian obat-obat perangsang hingga tindak kriminal yang disulut oleh tidak terpenuhinya hasrat konsumtif secara wajar. 
Budaya global yang lahir dari faham modernisme adalah implikasi dari budaya barat yang mengedepankan rasionalitas empiris dengan pemisahan wilayah nilai spirit dan wilayah rasional (sekular), hal ini sangat mempengaruhi karakter budaya masyarakat barat dengan mengedepankan rasio sebagai sumber utama peradaban sehingga  setiap prinsip-prinsip nilai kemasyarakatan dibangun dalam kerangka rasio tadi. Namun rasio yang berlandaskan empirisme mengedepankan pengalaman-pengalaman dalam menentukan nilai, etika kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia dan menerjemahkannya dalam wilayah esensial rasional manusia.            
Tampaklah bahwa modernisme yang melahirkan "pembangunanisme" meminggirkan pertimbangan-pertimbangan etis sehingga menggusur nilai-nilai kemanusiaan. Harkat dan martabat manusia ditundukkan di bawah hasrat pemilikan harta dan kesenangan sesaat. Inilah indikasi yang oleh Louis Leahy (1989) disebut "kematian" manusia. Manusia tidak lagi dipandang sebagai suatu realitas khas, yang lebih tinggi, unik dan absolut terhadap alam semesta. Tetapi sebaliknya realitas itu sendirilah yang secara total menentukan kondisi manusia.  Untuk mengantisipasi kita perlu mengakomodasi nilai-nilai meta-ekonomi seperti kejujuran, keadilan, serta dihormatinya harkat dan martabat manusia merupakan salah satu alternatif yang mestinya sudah lama dirintis. 
Perkembangan kebudayaan dan modernisme melahirkan beragam bentuk kebudayaan teknologi modern dan dikenal dengan kebudayaan modern tiruan yang  terwujud dari lingkungan ditengah gemerlapnya teknologi tinggi dan modern, tapi sebenarnya hanya mencakup simbol-simbol lahiriahnya saja, misalnya kebudayaan supermarket, kebudayaan Kentucky Fried Chicken atau McDonald. Kebudayaan modern tiruan hidup dari ilusi bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, ia merasa menjadi orang modern. Padahal dunia artifisial tidak menyumbangkan sesuatu dalam identitas budaya kita selain budaya konsumerisme tinggi bahkan kita dibiarkan kosong dan membiarkan diri kita dikendalikan. Selera, kelakuan, piliha rasa, dan penilaian kita dimanipulasi dan sehingga semakin tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebenarnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan. Anak dari kebudayaan ini adalah konsumerisme tinggi; orang ketagihan untuk membeli bukan karena kebutuhan (need) mereka atau menikmati apa yang dibeli tetapi demi (want) keinginan  sendiri atau status sosial yang semu. Orang memakai HP bukan karena kebutuhan tapai status sosial semu, orang makan di McDonald bukan karena lebih enak rasanya, melainkan fast food adalah gayanya manusia yang trendy adalah modern.        
Salah satu pengertian sempit globalisasi dan modernisasi adalah Amerikanisasi – pengertian ini rasanya tidak berlebihan bila melihat derasnya arus modal Amerika yang menembus berbagai belahan dunia.  Pada tahun 2002 Divisi Kependudukan PBB mencatat bahwa Mc. Donald’s sebagai salah satu ‘made in Amerika’ terkemuka memiliki 30.000 warung di 118 negara di dunia dan diperkirakan dalam dekade 1999 - 2000 an setiap hari ada 3 warung Mc. Donald’s di buka, bisa dibayangkan bagaimana derasnya penetrasi label Amerika di hampir seluruh  penjuru dunia. Penetrasi ini secara perlahan menggiring berbagai lapisan masyarakat terutama generasi muda yang dengan tidak sadar membangun konsep diri (self concept) yang rentan menimbulkan rasa minder (inferior) bila mengidentifikasikan diri sebagai masyarakat lokal, sementara di saat yang sama juga mereka harus menghadapi masalah dan tekanan dari luar dan dalam budaya sendiri. Mereka merasa malu dan minder bila tidak nongkrong di KFC, berbalut merek Blue Jeans dan Lee Cooper serta rasa minder kalau tidak mengidentifikasikan dirinya dengan label-label Barat. Bila ini menjangkiti generasi muda maka disinilah pintu masuknya Amerikanisasi berawal, khasanah nilai-nilai dan kearifan lokal yang mengagungkan kesederahanaan, beralih dengan mempersepsikan sesuatu sesuai dengan standar materi dan hedonisme.
Sebagai sebuah Bangsa saat ini kita  dihadapkan pada pertanyaan: apakah dalam proses peresapan kebudayaan teknologi modern Indonesia dapat mempertahankan diri? Sebuah bangsa dengan mata terbuka menghadapi segala tantangan dan perubahan, tetapi dalam perubahan harus mampu menentukan dirinya sendiri. Jadi ada penghargaan atas identitas nasional dan menjadikannya sebagai modal sosial untuk membangun bangsa ini. Bangsa Indonesia tidak bisa menutup diri dari perubahan-perubahan yang datang dari luar sehingga harus terus mempelajari hal-hal baru dan menjadikan modal sosial sebagai alat untuk mengembangkan dan membangun identitas-identitas dalam setiap pribadi dalam bangsa ini. Identitas adalah sesuatu yang dinamis, pertemuan dengan identitas yang lain akan memperkaya dapat juga menjadi sebuah ancaman. Kalau kita hanya berusaha untuk menyesuaikan diri kita akan kehilangan identitas kita. Agar dalam pertemuan identitas kita tidak menderita melaikan bertambah kuat maka kita mesti memenuhi dua syarat : Pertama memperkuat identitas dan sadar akan identitas nsionalnya sendiri. Dalam pengertian harus mengenal kebudayaannya dan sejarahnya serta merasa bangga ketika melekatkan dalan setiap gerak kehidupannya serta mengidentifikasi akan-kelemahan-kelemahannya. Kedua identitas mesti harus terbuka, dalam arti dia harus terbuka dengan kebudayaan-kebudayaan lain seperti kebudayaan teknologi modern dia mesti harus mempelajarinya. Jadi keyakinan akan diri sendiri, kesadaran harga diri yang kuat, disertai keterbukaan itulah yang dianggap sikap yang memungkinkan Indonesia menjadi bangsa yang modern tanpa kehilangan jiwanya sendiri. 

Kesimpulan
Modernisme berawal dari zaman pencerahan, sehingga saat itu muncullah filsuf-filsuf kritis yang pemikirannya hingga kini menentukan irama zaman seperti Kant, Hegel, Marx, Comte, Nietzsche, Sartre dan sebagainya yang mempengaruhi berkembangnya  modernisme yang bergerak dari paham Theosentris kepada Antroposentris. Pandangan antroposentris menekankan pentingnya keberadaan manusia dalam menggapai kelimpahan dan kenikmatan kebutuhan secara sporadis dan temporer.
Penggunaan rasio sebagai piranti yang melahirkan ilmu, pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat dasar berkembangnya modernitas yang mencirikan masyarakat yang berdasarkan industrialisasi sebagai sendi seluruh kehidupan masyarakat. Implikasinya adalah perubahan total dan mendalam dalam gaya hidup manusia.
Modernisasi adalah sebuah proses yang terus berlangsung dari masa ke masa dan menghasilkan berbagai produk berupa pola hidup, kebudayaan, gaya hidup manusia dan banyak aspek lainnya. Kehadiran modernisme disamping menawarkan kemudahan-kemudahan bagi manusia, juga memproduksi model-model belenggu baru yang jauh lebih dahsyat, diantaranya ditandai munculnya perilaku konsumtif di kalangan masyarakat dan generasi muda sebagai implikasi pembangunan ekonomi yang kian mengglobal. Ciri munculnya perubahan gaya hidup ini terlihat pada kegandrungan terhadap budaya Barat, gaya hidup instant, perilaku konsumtif yang mengarah pada hedonisme.            


Daftar Rujukan
Boudrillard, Jean P., Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004. 

Effendy, Onong Uchjana. Komunikasi dan Modernisasi. Bandung: Mandar Maju, 2005.

Kleden, Ninuk dan Probonegoro. Ekspresi Karya (Seni) dan Politik Multikultural: Sebuah Pengantar. Jakarta : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2004.

Nazaruddin, Muzayin dan Masduki. Media, Jurnalisme dan Budaya Populer. Yogyakarta: UII Press, 2008.

Suseno, Frans Magnis. Ancaman Globalisasi Budaya Terhadap Identitas Nasional Bangsa Indonesia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Tikson, T. Deddy. Keterbelakangan dan Ketergantungan : Teori Pembangunan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Makassar : Ininnawa, 2005.