skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

MAJALAH SEBAGAI MEDIA DAKWAH


Oleh Ria Warda

Abstrak :   Along with current of growth of information media which is fast progressively, forms of forwarding of message whereabout activity da’wah the inclusive of in it, need to modernize according to growth of epoch and progress in civilization area. All of preacher (da’i) as well as target da’wah (mad’u) claimed to be able to exploit the media to quicken reaching of target da’wah. And one of among mission media which very require to be managed professionally to quicken reaching of da’wah target, is da’wah magazine.
                   To reach the da’wah target which da’wah magazine circulating, hence very need the artistic values exploiting as a mean to generate the awareness that Allah swt. The most Respect and very loving beauty. But the beauty may not go out from corridor of statement of slave to Allah swt accompanied by the full of awareness that its slave status must continue at effort realize the function of human being as khalifatullah fil-Ardh (proxy of Allah swt and at one blow as the authorized one of power from Its in the world) to be prosperous of human life.

Kata kunci :  majalah, media, dakwah


Latar Belakang Masalah  
Seiring dengan arus perkembangan media informasi yang nampak semakin pesat sebagai konsekwensi dari kemajuan peradaban khususnya di bidang prestasi ilmu dan teknologi, bentuk-bentuk penyampaian pesan di mana kegiatan dakwah termasuk di dalamnya, juga amat terasa untuk perlu dimodernisir sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan di bidang peradaban. Jika tidak, maka sistem penyampaian pesan dalam bentuk dakwah akan tertinggal dan dapat berakibat tidak lagi mendapat tempat yang layak ditengah kemajuan ilmu dan peradaban yang semakin maju.
Berkat kemajuan di bidang informasi dan segala perangkat pendukungnya, informasi dan segala bentuk berita yang disebar melalui berbagai media, baik yang bersifat auditif (diserap melalui pendengaran) maupun yang bersifat visual (diikuti malalui penglihatan), bahkan yang bersifat audovisual (diserap melaui pendengaran dan penglihatan dalam waktu yaang bersamaan). Terutama media elektronik yang berupa radio, televisi, video, telefon, hand phone, internet, faximilie, dan sebagainya yang semuanya memungkinkan konsumen informasi dan juga termasuk di dalamnya obyek dakwah dapat menerima pesan-pesan yang dibutuhkan tanpa berpayah-payah beranjak dari tempat kegiatan sehari-hari mereka. Apakah tempat kegiatan itu di rumah (di kamar mandi sekalipun) di kantor, di atas kendaraan yang sedang melaju ke tujuan tertentu, bahkan di atas tempat tidur sekalipun, di taman, di kebun, di hutan, dan sebagainya, semuanya memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengakses informasi dari berbagai sumber pesan yang semuanya menjadi sarana penambah pengetahuan bahkan juga menambah berbagai teori yang amat diperlukan dalam rangka mengisi kegiatan dalam kehidupan keseharian.
Dalam hal ini amat diperlukan kesiapan berbagai sarana pendukung dalam upaya memperlancar penyampaian pesan, termasuk pesan-pesan dakwah. Di satu pihak dibutuhkan perangkat penyampaian pesan secara memadai berupa pusat pengiriman informasi dengan segala media pendukungnya, dan di pihak lain diperlukan kelengkapan sarana penerimaan atau penyerapan pesan secara memadai agar dapat terjalin komunikasi yang dapat memenuhi maksud penyampaian pesan-pesan yang diinginkan. Selain itu, amat diperlukan juga kesiapan kemampuan manusia, baik yang berada pada posisi pemberi pesan maupun yang berada pada posisi penerima informasi. Dalam hal ini kemampuan manusia untuk memanfaatkan media informasi dengan segala jenisnya agar tidak terjadi fenomena gatek (gagap teknologi) yakni tidak mampu dalam memanfaatkan peraangkat teknologi dalam upaya memenuhi maksud penggunaan peralatan canggih tersebut.
Dalam kaitan ini amat diperlukan agar para pelaku dakwah berupaya semaksimal mungkin dapat menguasai pemanfaatan alat-alat informasi canggih dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah ke seluruh lapisan sasaran dakwah. Sementara itu, dalam waktu yang sama juga diperlukan kemampuan pihak penerima pesan (obyek, atau sasaran dakwah) dalam menyerap pesan-pesan dakwah melalui berbagai bentuk media dakwah yang ada.
Di sinilah letak perlunya penguasaan berbagai media informasi yang memang selalu berkembang sejalan dengan kemajuan dan perkembangan hasil-hasil temuan ilmu dan teknologi. Dengan demikian, semua pelaku dakwah dan juga sasaran dakwah dituntut agar mampu memanfaatkan media dakwah untuk mempercepat tercapainya tujuan dakwah. Dengan kata lain, masa kemajuan ilmu dan teknologi sekarang ini sudah tidak memberikan tempat yang layak bagi pelaku dakwah yang masih tergolong sebagai manusia gagap teknologi. Dan salah satu di antara media dakwah yang amat perlu dikelola secara profesional untuk mempercepat tercapainya tujuan dakwah, ialah majalah dakwah yang nampak semakin dibutuhkan oleh berbagai lapisan masyarakat terutama kalangan terdidik. Dari pemaparan tentang latar belakang masalah sebagiamana yang dikemukakan di bagian terdahulu, dapat dirumuskan pokok-pokok masalah yang perlu ditemukan solusinya dalam uraian-uraian lebih lanjut sebagai berikut :
1.       Apa dan sejauhmana peranan yang dimainkan oleh majalah sebagai salah satu media dakwah?;
2.       Bagaimana cara pengelolaan majalah sebagai salah satu media dakwah agar dapat merealisir tujuan dakwah yang sebenarnya?.

Media Cetak
Media cetak untuk berbagai jenis media dakwah di sini ialah semua bahan cetakan yang digunakan untuk memuat dan menyampaikan pesan-pesan dakwah ke pada msyarakat sebagai sasaran (obyek) dakwah. Bahan cetakan yang memuat informasi dakwah tersebut harus memenuhi beberapa fungsi sebagai media penyampaian pesan ke pada publik. Misalnya, informasi tentang sistuasi dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat baik masyarakat di sekitar maupun yang berskala dunia. Selain itu, media cetak tersebut juga harus memuat tentang upaya peningkatan pemahaman tentang diri sendiri. Selanjutnya, media cetak itu juga harus memuat informasi tentang upaya menjalankan peran sosial. Berikutnya, media cetak termaksud juga harus berisi informasi tentang dorongan untuk memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis (Denis McQuail, 1991: 72). 
Media cetak yang dapat digolongkan ke dalam jenis-jenis media dakwah ialah : buku, surat kabar, majalah, bulletin, brosur, jurnal, pamplet, stiker, poster, karcis (tiket), logo (label), dan sebagainya (A. St. Ziarah M., 1988: 12). Dengan demikian diketahui bahwa media dakwah yang termasuk jenis bahan cetakan sangat beragam dan cukup banyak tapi semuanya dipertemukan dalam satu nama yaitu media penyampaian pesan yang menggunakan bahasa tulisan.

Media Elektronik
Media elektronika ialah semua peralatan yang sitem kerjanya berhubungan dengan elektron (tenaga listrik) (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1994: 256. Dalam kaitan dengan penggolongan media dakwah di bidang media elektronik, dapat dibagi ke dalam tiga macam yaitu masing-masing :
1)      Media dakwah elektronik jenis auditif. Yaitu media penyampaian pesan dalam bentuk suara atau dapat juga disebut sebagai media yang menggunakan bahasa lisan atau semua pesan yang berbentuk bunyi (suara).
             Termasuk dalam jenis ini alat-alat penyampaian pesan seperti radio, telefon, tape recorder (media perekam suara), pita rekaman, CD (Compack Disk), dan sebagainya.
2)      Visual, yaitu media penyampaian pesan yang menampilkan gambar atau tulisan yang direfleksikan (dipantulkan) melalui lensa proyektor. Termasuk ke dalam pembagian ini alat-alat penampil gambar seperti: foto tustel, slide reflektor, OHV (Over Head Proyektor), Film (layar besar dan layar kecil), sketsa, dan sebagainya.
3)      Audo-visual, yaitu media penyampaian pesan dengan menampilkan gambar dan suara dalam waktu yang bersamaan. Jadi melalui media penyampaian seperti ini pihak penerima pesan dapat melihat tayangan dalam bentuk gambar hidup yang dilengkapi dengan suara sekaligus. Termasuk ke dalam jenis media ini ialah televisi, rekaman video yang dilengkapi dengan penerima suara, film yang disertai suara, dan sebagainya.  
Kesemua jenis media penyampaian pesan tersebut di atas, dapat digolongkan sebagai media dakwah yang dapat dimanfaatkan secara efektif dalam upaya penyadaran masyarakat menuju tercapainya cita-cita dakwah yaitu: “menyeru manusia ke arah kebaikan dengan jalan mengajak mereka untuk melakukan kebaikan (al-amr bil ma’ruf) dan menghindari kejahatan (al-nahyu ‘anil-munkar) demi mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat”. (Abu Yahya Zakariya al ‘Amiriy, 1979: 38).
Dari pemaparan terdahulu diketahui bahwa sebenarnya media dakwah cukup banyak. Juga diketahui bahwa mekaksanakan kegiatan dakwah tidaklah hanya melalui kegiatan lisan atau dakwah bilmaqal tetapi dakwah juga dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan berbgagai media hiburan. Dan jika hal itu dilakukan maka dapat dibayangkan hasilnya akan cukup lumayan sebab bagaimanapun jiwa manusia selalu cenderung untuk mencintai keindahan dan semua yang sifatnya indah.

Karakteristik Majalah Dakwah
Antara majalah populer, majalah ilmiah, majallah hiburan, dan majalah dakwah, terdapat titik persamaan di samping juga ada beberapa titik perbedaan yang memisahkan antara satu dan lainnya dari jenis majalah tersebut. Persamaannya ialah bahwa semua majalah terbit secara berkala dalam periode tertentu misalnya sekali seminggu (majalah mingguan), dua minggu sekali (majalah tengah bulanan), sekali sebulan (majalah bulanan), dua bulan sekali (majalah dua bulanan), tiga bulan sekali (majalah tiga bulanan), empat bulan sekali (majalah empat bulanan) enam bulan sekali (majalah tengah tahunan), dan sekali setahun (majalah tahunan).
Secara umum, karakteristik majallah dikemukakan oleh Prof. Dr. H. M. Sattu Alang, M. A. Sebagai berikut :
1.       Penyajiannya lebih mendalam karena periodesitasnya lama sehingga pencarian informasi lebih leuasa dan tuntas.
2.       Nilai aktualitas lebih lama karena dalam membaca majallah tidak pernah tuntas sekaligus.
3.       Gambar/foto lebih baanyak, desain bagus, kualitas kertas bagus.
4.       Cover; sebagai daya tarik.
5.       Bersifat segmented ; berdasarkan segmen pasar tertentu ex. Majalah anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, pria, wanita. (M. Sattu Alang, 2008: 2).
Sedang karakteristik majalah dakwah ialah sesuai dengan namanya harus mengedepankan  misi utamanya sebagai waah penyampaian pesan dakwah. Jadi semua rubrik atau ruang pemberitaan, termasuk ruang opini, analisis, informasi, berita-berita lokal, nasional, regional, hingga internasional, semuanya harus mencerminkan misi dakwah dengan tujuan utama sebagai penyampai pesan untuk menyadarkan sasaran dakwah (para pembacanya) sebagai hamba Allah sekaligus sebagai khalifah Nya.
Sebagai majalah pada umumnya, pengelola majalah dakwah harus pandai-pandai memilih penampilan memikat dan sekaligus menarik. Di sini diperlukan nuansa hiburan dengan memanfaatkan segi-segi keindahan. Namun perlu diingat bahwa keindahan dan nilai hibauran dalam dakwah tidaklah selalu sama dengan nuansa keindahan dan nilai-nilai hiburan dalam kesenian pada umumnya. Artinya, kalau keindahan dan seni yang ditampilkan oleh majalah hiburan pada umumnya berpijak pada prinsip ”seni untuk seni” maka majalah dakwah harus menonjolkan prinsip dakwah dalam menampilkan keindahan, yaitu prinsip yang berpijkak pada motto ”seni untuk moral dan al-akhlaq al-karimah”.

Kelebihan dan Kekurangan Majalah Dakwah  
Sebagai sarana pembawa misi  moral (dakwah), majalah dakwah memiliki segi-segi kelebihan di samping juga mempunyai segi-segi kekurangan sebagai berikut :
1)   Kelebihan-kelebihannya :
a.     Memiliki jangkauanluas, yaitu masyarakat pembaca yang relatif luas. Yaitu seluas dengan lokasi domisili pengguna bahasa yang menjai pelanggan dari majallah dakwah tersebut;
b.    Memiliki aset pelanggan yang banyak, sebanyak pembaca yang bersimpati terhadap majalah dakwah yang bersangkutan. Terutama yang memiliki kecenderungan ide yang sama dengan ide yang dikembangkan oleh pengelola majalah dakwah yang bersangkutan;
c.     Karena sifatnya sebagai majalah dakwah, yang meneruskan pesan-pesan pendidikan dan penegakan moral, maka majalah dakwah pun tidak sedikit memuat uraian dan analisis ilmiah yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu dan aneka pengetahuan. Semuanya itu menjadikan majalah dakwah berada pada posisi yang setaraf dengan sumber bacaan atau bahan literatur yang tentu saja banyak menolong pencinta dan peminat dalam pengembangan ilmu pengetahuan misalnya para muballigh, pendidik di bidang pembinaan moral keagamaan, mahasiswa (calon sarjana) yang menekuni kegiatan dakwah, bahkan sampai pada kalangan sarjana dan kaum cendekiawan sekalipun.
d.    Karena berita dan uraian yang disajikan dalam majalah dakwah bersifat ilmiah praktis (bukan teoritis), maka bahan rujukan dalam bidang keilmuan tersebut termasuk tidak usang dan relatif dapat bernilai up to date dalam jangka waktu tertentu jika dibanding dengan sumber bacaan lain semisal brosur, atau surat kabar.
e.     Karena cover (kulit luar) majalah didesain seindah dan semenarik mungkin, maka majalah dakwah pun termasuk bahan bacaan yang memiliki nilai hiburan sekaligus menunjukkan bahwa nuansa hiburannya sama sekali tidak terlepas dari dari pesan-posan moral dan dakwah. Dengan demikian keindahan dan seni yang dimunculkan pada cover tersebut berisi  pesan ”seni untuk moral”. 
2)   Kekurangan-kekurangannya :
a.     Pesan-pesan moralnya hanya terbatas pada kalangan yang pandai membaca khususnya pengguna bahasa dan memahami bahasa yang digunakan majalah tersebut  dengan baik.
b.    Sering terjadi bahwa suatu majalah dakwah dalam menampilkan sajian uraian dan komentar, masih terjebak dalam ”kefanatikan” aliran tanpa mau memberi peluang ke pada pihak-pihak lain yang tidak sealiran dengan mereka untuk mengembangkan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan pihak lain itu.
c.     Dari segi oplag dan jumlah penggemar, majalah dakwah masih kalah bersaing dengan majalah hiburan yang umunya menampilkan corak hiburan yang bernuansa kesenangan sesaat. Dengan demikian maka majalah dakwah masih  sangat kewalahan dalam membiayai kelangsungan hidupnya kecuali jika memang ada sumber dana tersendiri yang dapat menopang keberlangsungan hidup majalah dakwah tersebut.

Beberapa Contoh Majalah Dakwah yang Ada dan Beredar di Indonesia
Beberapa nama majalah dakwah yang beredar serta dikenal baik di Indonesia, sebagai berikut :
1.       Suara Hidayatullah, majalah bulanan yang diterbitkan oleh para pengelola pesantren Hidayatullah dan diterbitkan di Surabaya. Majlah dakwah ini memiliki oplag yang cukup besar dan terlsebar luas di Indonesia hingga ke pelosok-pelosok tanah air.
2.       Media Dakwah, juga majalah bulanan yang diterbitkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dengan alamt redaksi : Jl. Kramat Raya 45 jakarta. Keistimewaan majalah ini karena ia sudah dikenal di manca negara, khususnya negara-negara Islam sebagai wadah penyampaian pesan (dakwah) kepada umat Islam di Indonesia dengan ciri khas pengembangan ide Dr. Muhammad Natsir, pejuang Islam dengan reputasi Internasional dan juga pahlawan kemerdekaan Indonesia.
3.       Info Zakat (Media Informasi Organisasi Pengelola Zakat), majalah dua bulanan yang diterbitkan oleh Forum Zakat dengan alamat redaksi : Pondok Indah, Tanah Kusir II Jakarta Selatan.
4.       Swara Ditpertais, media informasi Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama Pusat, jakarta. Merupakan majalah bulanan yang bernuansa semi dakwah diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dengan alamat redaksi : Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Gedung Departemen Agama Lt 8 jl. Lapangan Banteng, Jakaarta Pusat.
5.       Suara Muhammadiyah, majalah dakwah bulanan yang diterbitkan oleh pengurus pusat organisasi sosial Islam Muhammadiyah yang redaksinya berkedudukan di kota Yogyakarta, daerah Istimewa Yogyakarta.
Selain itu masih banyak lagi majalah dakwah yang beredar di Indonesia baik yang diterbitkan oleh pengurus partai politik yang berbasis Islam maupun lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai dari pesantren, Sekolah Tinggi Islam, Universitas Islam, atau Institut Agama Islam baik yang negeri maupun swasta.

Kesimpulan
1.  Majalah ialah salah satu jenis bahan bacaan yang diterbitkan secara berkala dan memiliki karakteristik tersendiri dan berbeda dengan surat kabar, brosur, jurnal, maupun pamplet, dan sebagainya. Dari sekian banyak jenis majalah, ada yang bersifat hiburan, ada pula yang bersifat pengembangan ilmu-ilmu populer, dan ada pula yang bersifat Dakwah. Ada yang diterbitkan dalam periode mingguan, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan, dan seterusnya.
2. Yang dinamakan majalah dakwah ialah majalah yang menampilkan isi atau informasi yang bernuansa dakwah yaitu bertujuan untuk meluruskan moral, mendidik para pembacanya dengan didikan dakwah dan pesan-pesan keagamaan sekalipun tidak melupakan nuansa hiburan bagi para pembacanya. Namun hiburan yang dimaksudkan itu bukanlah semata-mata seni untuk seni tapi seni untuk moral.
3. Untuk mencapai tujuan dakwah yang sebenarnya melaui pengedaran majalah dakwah, maka sangat perlu pemanfaatan nialai-nilai seni dengan tujuan untuk menimbulkan kesadaran bahwa Allah swt. Maha Indah dan sangat mencintai keindahan. Namun keindahan yang dimaksud tidak boleh keluar dari koridor pernayataan kehambaan diri ke pada Nya disertai kesadaran penuh bahwa status kehambaan itu mestinya berlanjut pada upaya merealisir fungsi manusia sebagai khalifatullah fil-Ardh (wakil Allah swt dan sekaligus sebagai pemegang mandat kekuasaan dari Nya di bumi ini) untuk memakmurkan kehidupan di bumi ini.   


Daftar Rujukan

al-‘Amiriy, Abu Yahya Zakariya. Kaefa Nad’unnasi Ilallah, Kairo: Maktabah al-jieliy, 1979.

Alang, Sattu. Berdakwah Melalui Media Massa (Garis-garis Besar Pengantar Kuliah Dakwah di S3 UIN Makassar 10 Mei 2008).

Makkajareng, Ziarah. Pengantar Ilmu Dakwah (Diktat Seri Matakuliah Dakwah, Buku Pertama), (Palopo, Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palopo, 1988). 

McQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa. Edisi Kedua, Jakarta: Erlangga, 1991.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia , Edisi Kedua, (Cetakan III, Jakarta, Balai Pustaka, 1994).