skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

KEHADIRAN MEDIA ON-LINE DI INTERNET DAN PENGARUH PENYEBARAN INFORMASI MELALUI MEDIA CETAK


Oleh Wahyuni Husain

Abstrak :   Media on-line on the Internet continues to grow and to attract audiences to choose the media is a source of information. This of course can disrupt the stability of other traditional media in presenting the news that the actual competition. However, despite news delivered via on-line media is much faster than the newspapers published, but it does not mean more complete. Also in the media on-line does not provide much space discussing the news in detail, it is different in the traditional media space for more news, so even a small problem became news. These factors cause the print media still remains as medium used by the public.

             
Kata kunci : media on-line, cyber, cyberspace, media cetak, informasi

Pendahuluan
Sumber informasi utama masyarakat adalah media massa. Keterbatasan kemampuan manusia untuk memperoleh informasi itulah sehingga manusia membutuhkan suatu media yang dapat memenuhi kebutuhan informasinya. Pada saat ini telah terjadi revolusi informasi dimana manusia dihadapkan pada banyak pilihan media seperti media cetak dengan berbagai macam versi penyajiannya, media elektronik televisi dan audio visualnya serta media internet dengan megapustaka untuk berbagai informasi yang dibutuhkan.
Frederick William mengatakan bahwa kita dalam kehidupn modern ini secara terus menerus memilih media komunikasi mana yang dapat mewakili situasi yang ada. Ia juga mengatakan bahwa salah satu hal yang membedakan gambaran mengenai dunia kita dalam komunikasi modern adalah bahwa kita memiliki banyak pilihan dalam menggunakan media komunikasi. Tidak hanya itu saja, media menjadi bervariasi dan isinya berhubungan pada teknologi komunikasi baru. Contohnya televisi bisa kita terima di rumah hanya dengan kabel, disk atau tape yang berhubungan langsung dengan satelit. Sebenarnya kita hidup dalam dunia yang memiliki banyak alternatif komunikasi yang mungkin mendorong kita untuk meningkatkan pilihan-pilihan yang lebih banyak.
Era globalisasi muncul menyusul terjadinya revolusi komunikasi dan informasi yang mulai menggejala sejak tahun 1970-an atau sekitar seperempat abad silam. Revolusi komunikasi dan informasi dipicu oleh revolusi telekomunikasi dengan berbagai perwujudannya. Fenomena tersebut kemudian dikenal pula dengan nama Cybercommunication (Cybercom). Sejarah menyaksikan munculnya komunikasi satelit, telepon antarbenua, televisi, telepon selular, dan TV kabel hingga jaringan internet sejagat    (A. Muis, !999: 188– 189).
Pada saat revolusi komunikasi dan informasi seperti dikatakan A. Muis di atas terdapat kecenderungan bertambahnya jumlah masyarakat yang selalu “haus” akan informasi baru serta menjamurnya industri media massa. Tingkat ketergantungan masyarakat pada media massa pun semakin meningkat. Maka dari itu komunikasi memiliki kekuatan yang cukup luas di masyarakat dan berada pada setiap aspek – ekonomi, politik, sosial, budaya – yang dapat mempengaruhi jalannya suatu negara. Komunikasi dalam hal ini berhubungan dengan media massa yang dijadikan mediator antara masyarakat juga antara masyarakat dengan pemerintah.
Media massa merupakan media komunikasi yang dijadikan sumber informasi terbesar bagi masyarakat untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Media massa juga dijadikan jembatan informasi antara satu tempat dengan tempat lain. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat sangat tergantung pada media massa. Sehingga apapun yang disajikan akan dengan mudah dipercayai oleh penerima. Karena masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk melakukan cek dan ricek atas apa yang dikemukakan media massa. Saat itulah media massa akan dengan mudah melakukan ‘brain washing’ pada pembaca dan mengarahkan masyarakat sesuai dengan keinginan orang-orang di belakang informasi.
Berbagai cara ditempuh untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dengan menyajikan berita-berita yang up to date, sehingga terjadilah persaingan antar media massa. Salah satu cara yang digunakan media untuk memperoleh informasi yang aktual adalah dengan menyebarkan koresponden ke seluruh dunia. Dengan begitu, media massa akan lebih mudah mendapatkan informasi aktual dari seluruh dunia dalam waktu singkat. Cara lain yaitu dengan membentuk kantor berita seperti kantor berita di Indonesia dengan nama Kantor Berita Antara atau Reuters di Inggris dan NHK di Jepang.
Teknologi komunikasi dalam hal penyebaran informasi melalui media massa semakin berkembang. Kali ini tidak hanya melalui media cetak ataupun elektronik tetapi internet. Suatu media alternatif selain media massa yang telah ada, internet merupakan suatu mega pustaka dimana seluruh informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh disana.
Berdasarkan artikel Charles Elliot (E-Paper in Asia, News Flows and the Computer-Mediated Press, 1999), internet merupakan hasil teknologi komunikasi yang menjadi jaring penghubung terbesar di dunia. Ia sebagai perantara yang menjembatani hubungan antara dunia Barat dan Timur sehingga hanya dalam waktu yang relatif singkat dan biaya murah seseorang dpaat membaca surat kabar berbagai terbitan dunia dengan aktualitas yang terjamin.
Penggunaan internet sebagai media pengiriman informasi mulai dilirik oleh para “pencinta” jurnalistik. Internet dianggap sebagai suatu cara yang paling mudah dan murah dalam penyampaian informasi dari pelosok manapun juga yang memiliki jaringan internet. Maka telepon dan facsimile walaupun masih digunakan tetapi dianggap tiak secepat internet dalam penyampaian berita.
Dalam dunia jurnalistik, internet memberikan kekuasaan pada individu dengan komputer untuk mengembangkan pusat penerbitannya sendiri. Internet menawarkan suatu PC dasar hanya dengan menggunakan telepon hubungan web serta layanan sistem informasi global yang gratis.
Berkembangnya teknologi internet sebagai media informasi elektronik yang akhir-akhir ini berkembang pesat di negara maju sejak 35 tahun yang lalu dan mulai pula berkembang di Indonesia, diperkirakan dapat mempengaruhi teknologi penyebaran informasi dari teknik tradisional menjadi teknik penyebaran melalui media elektronik (cyber). Revolusi teknologi informasi di Indonesia memang sedang terjadi, walaupun agak terlambat dibanding dengan negara lain. Hal ini dibuktikan dengan bertambah banyaknya jumlah pengguna internet, perusahaan jasa provider dan merebaknya media on-line membuktikan bahwa internet ini mulai membudaya di Indonesia.
Perkembangan teknologi komunikasi juga mempengaruhi kalangan praktisi pers. Saat ini terutama media cetak tidak lagi dihadapi dengan media elektronik yang tentu saja memiliki banyak kelebihan dibanding dengan media cetak dalam hal visualisasi. Tapi tampaknya media cetak lagi-lagi harus ‘gigit jari’ dengan munculnya media on-line di internet. Seperti yang kita ketahui bahwa internet tidak memiliki hambatan dalam penyampaian informasinya. Tidak ada yang membatasi ataupun peraturan-peraturan tertulis yang mengaturnya.
Masuknya media baru ini di tengah-tengah masyarakat yang sedang merangkak menuju kedewasaan berpikir pasti tidak akan mudah. Perkembangan teknologi ini harus disesuaikan dengan budaya pemakai dan konsumen. Sampai sejauh mana inovasi ini dapat mempengaruhi cara mereka berpikir. Apalagi kebebasan penyebaran informasi di internet yang seperti tanpa penghalang. Pengawasan terhadap internet hampir tidak mungkin karena begitu ramainya lalu lintas dan karena identitas sangat mudah disamarkan. Bahkan salah seorang operator Amerika menyediakan layanan anonimitas, menanggalkan semua penanda dari pesan yang dikirim melalui servernya, sehingga orang merasa bebas mengekspresikan diri.
George Owel seperti dikutip A. Muis (1999 : 193) meramalkan media massa akan dikendalikan oleh sebuah kekuatan misterius yang otoriter pada saat memasuki era globalisasi informasi. Karena pada saat ini dunia yang mulanya terasa sangat luas akan menjadi kecil, modem serta jaringan telepon kita akan dengan mudah meraih informasi apa saja tanpa kita ketahui siapa di belakang semuanya.
Dilihat dari jumlah pengguna internet yang sudah menjangkau sebagian besar kota-kota di Indonesia dan menjamurnya Warnet (Warung Internet) di seluruh pelosok membuktikan bahwa internet telah menjadi salah satu alternatif masyarakat untuk memperoleh informasi. Apalagi nilai aktualiatas berita di internet jauh lebih aktual dibandingkan dengan media tradisional seperti media cetak dan media elektronik. Hal ini disebabkan oleh proses penyampaian berita pada media cetak dan elektronik melalui berbagai macam tahap, sehingga waktu terus berjalan yang menyebabkan nilai aktualitas suatu berita berkurang.
Melihat gejala seperti ini, maka mulai bermunculan media interaktif internet, walau pada mulanya jarang dikenal oleh masyarakat. Tetapi kemudian internet secara gradual menjadi budaya baru di tengah-tengah masyarakat dan mulai diterima serta dianggap sebagai salah satu alternatif sumber informasi.
Penyebaran informasi melalui internet yang tidak mengenal batas negara dan peraturan-peraturan pemerintah memang salah satu kelebihan selain aktualitas berita yang tinggi. Kebebasan mengungkapkan pendapat dan menyebarkan informasi secara global memang sangat menarik perhatian masyarakat. Setidaknya mereka dapat memperoleh informasi yang tidak atau belum disiarkan di media tradisional.
Kecenderungan peralihan pemilihan sumber informasi masyarakat menjadi salah satu sebab media tradisional untuk melakukan peningkatan mutu. Bahkan ada beberapa media menyajikan beberapa versi seperti dengan mengeluarkan versi media ceta, elektronik dan internet. Sehingga muncullah istilah media kembar, disebut demikian karena memang isi dari ketiga versi itu tidak jauh berbeda. Hanya kelebihannya ketiga versi itu dapat meraih lebih banyak audiens dari berbagai lapisan.
Terdapat kecenderungan, media on-line di internet terus berkembang dan menjadi daya tarik khalayak untuk memilih media ini menjadi sumber informasi. Hal ini tentu saja dapat mengganggu stabilitas kerja media tradisional lainnya dalam bersaing menyajikan berita yang aktual. Dengan demikian, penulis membatasi masalah dengan memaparkan bagaimana penerimaan masyarakat yang dihadapkan pada beberapa alternatif sumber informasi terutama dengan kehadiran media baru.
Dalam tulisan ini, penulis mengumpulkan data melalui studi kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku bacaan maupun artikel serta hasil penelitian yang relevan dengan pembahasan dalam makalah ini. Dalam menganalisisnya, penulis menggunakan metode analisis deskriptif.

Teknologi Komunikasi dan Informasi
Teknologi komunikasi menurut Rogers dirumuskan sebagai peralatan perangkat keras, setruktur-struktur organisasional, dan nilai-nilai sosial dengan mana individu mengumpulkan, mengolah dan saling bertukar informasi dengan individu lain. Adapun mengenai  teknologi informasi mencakup sistem-sestem komunikasi seperti satelit siaran langsung, kabel interkatif dua arah, penyiaran bertenaga rendah (low power broadcasting), komputer (termasuk PC dan komputer genggam yang baru), dan televisi (termasuk video disk dan video tape cassette)” (Ely, 1982: 5).
Memang  ada pembahas yang membedakan antara teknologi komunikasi dengan teknologi informasi dengan menyatakan bahwa yang pertama mencakup pengertian yang lebih luas, termasuk sistem, saluran, perangkat keras dan perangkat lunak dari komunikasi modern, di mana  teknologi informasi merupakan bagian daripadanya. Sedangkan ilmuan lainnya membedakan teknologi informasi dalam pengertian hardware atau perangkat keras saja. Bahkan ada yang menafsirkan teknologi informasi sebagai perangkat komputer berikut segala kelengkapannya saja. Namun bila diamati dengan lebih dalam, nyatalah bahwa di antara kedua bidang tersebut saling berkaitan satu sama lain, bahkan seringkali digunakan untuk menyebut hal yang sama secara bergantian.
Dalam mendefinisikan teknologi komunikasi selalu berkaitan dengan istilah hardware dan software. Hardware adalah bagian yang paling nyata dari sistem teknologi baru dimulai dari hardware. Tetapi bagaimana pun dalam memahami teknologi komunikasi tidak cukup hanya memahami hardware. Sangatlah penting untuk memahami pesan-pesan komunikasi yang disampaikan melalui sistem teknologi dimana pesan-pesan ini dijadikan ‘software’ (August E. Grant, 1996 : 143).
Teknologi komunikasi merubah secara dramatis cara orang mengirim dan menerima pesan. Media baru bukan mengenai meletakkan surat kabar, majalah, radio dan televisi di luar bisnis. Tetapi saluran baru komunikasi menjadi sangat popular dan menawarkan alternatif disamping media tradisional.  Dalam beberapa kasus, Anda perlu mempertimbangkan “media baru” ini (Jim Macnamara, 1999: ).
Kata cyber sejak tahun 1948 selalu dikaitkan dengan robot dan komputer. Banyak sekali cyber seperti cyberspace, cyberborg, dan lain-lain, tetapi yang kerap kali digunakan adalah cyberspace yang diartikan sebagai kombinasi teknologi komunikasi dan informasi.
Perputaran informasi sudah tidak lagi menggunakan hitungan jam tetapi menggunakan hitungan detik. Peristiwa akan terus terjadi pada saat wartawan sedang menulis berita dan begitu selanjutnya. Aktualitas berita semakin tinggi diharapkan sehingga persaingan antara media semakin ketat.
Teknologi komunikasi memang banyak menjanjikan harapan (rising expectations) sekaligus menimbulkan frustasi (rising frustrations). Banyak hal yang harus kita hadapi akibat pesatnya teknologi komunikasi ini. Pertama, teknologi komunikasi akan melahirkan kelas baru dalam masyarakat. Kedua, teknologi komunikasi bisa membentuk nilai baru. Ketiga, teknologi komunikasi bisa memperpendek jam kerja kita, orang bisa kerja tanpa harus pergi ke kantor karena dihubungkan oleh telekomunikasi. Keempat, pesatnya teknologi komunikasi bisa dimanfaatkan para pengusaha sebagai arena persuasi massal di media massa. Kelima, teknologi komunikasi membawa ekses juga pada timbulnya ketergantungan pada negara lain. Hingga sekarang, misalnya perangkat keras dan lunak (hardware dan software) dalam bidang komputer dan teknologi komunikasi berasal dari negara Barat.

Media On-line
Media komunikasi di Indonesia sejak masa reformasi khususnya media massa cetak sudah mulai membumi terutama setelah Menpen membebaskan penerbitan media cetak bagi siapapun juga yang berkeinginan untuk menjadi Pemred mendadak. Semakin banyak media cetak yang beredar tentu saja semakin membingungkan masyarakat yang mulai tergantung pada media tersebut. Kemudian kebebasan pers yang semula dianggap sebagai barang langka di kalangan pers, sekarang menjadi barang obralan yang tidak lagi memperhatikan mutunya. Tak ada cek dan ricek atas penyajian informasi, tidak ada lagi rasa ‘hormat’ pada pemerintah atau pejabat-pejabat. Semua dianggap boleh dilakukan di media cetak.
Masyarakat yang mulanya menyambut baik kemunculan media-media baru mulai meragukan nilai faktual dan etikanya. Lalu terjadilah seleksi oleh khalayak dan mulai beberapa media tidak terbit lagi karena ditinggalkan pembacanya. Kesempatan kebebasan penyajian informasi ini juga dimanfaatkan oleh para inovator Indonesia. Mereka mampu melihat sesuatu dari sisi yang berbeda, sisi lain yang jarang disentuh orang yaitu penerbitan Media On-line. Masyarakat yang semula saling berebut menerbitkan media cetak, kemudian ‘berani’ menerbitkan media on-line yang tentu saja masih belum membudaya dan masih jarang disentuh oleh para pemasang iklan di Indonesia sebagai sumber pendapatan.
Media on-line dapat dianggap sebagai media masa depan, dan suatu saat masyarakat Indonesia akan menganggap media on-line sebagai media alternatif selain media cetak dan elektronik. Sekarang pun media on-line sudah mulai dikenal oleh masyarakat banyak sebagai sumber yang terpercaya. Untuk beberapa kalangan tertentu, informasi di internet dianggap sebagai sumber informasi aktual dan tercepat.
Pada penelitian yang dilakukan oleh University of Southern California (1998), disebutkan bahwa pada awal 90-an, hanya setengah lusin surat kabar besar dan sedikit surat kabar kecil saja yang memiliki Surat Kabar On-line atau interaktif pada web atau internet provider seperti Amerika On-line. Walaupun tanpa produk on-line, ratusan surat kabar memiliki halaman web. Pertengahan 90-an Surat Kabar On-line baru menawarkan untuk menyajikan berita utama surat kabar tersebut untuk ditempatkan di web dan sebagian besar surat kabar telah menempatkan semua isi surat kabar versi cetak pada web. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Barret (1997) ditemukan bahwa 67 % pembaca on-line secara kontinyu membaca Surat Kabar On-line dan Majalah On-line di internet.

Media Modern dan Media Tradisional
Yang tergolong media modern adalah media on-line sedangkan yang termasuk media tradisional adalah media cetak dan elektronik. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat perbedaan kedua media ini, salah satunya adalah yang dilakukan oleh Christoph Neuberger, Jan Tannemacher, Matthias Biebl dan Andre Duck (JCMC, 1998) dari Catholic University di Jerman melakukan penelitian tentang media on-line sebagai media masa depan. Mereka melakukan penelitian dengan cara membandingkan media cetak dan media on-line. Variabel yang digunakan pada kuesioner untuk melihat kelebihan dan kekurangan media on-line dibandingkan dengan media cetak dengan menanyakan 2541 responden yaitu :
Kelebihan :
  1. Digunakan secara gratis
  2. Beritanya lebih aktual
  3. Dapat menggunakan lingkup yang lebih luas
  4. Menggunakan saluran
  5. Dapat otomatis mencari informasi yang dibutuhkan
  6. Dapat melihat berita dari surat kabar luar negeri
  7. Dapat menghubungi editor melalui e-mail
  8. Adanya forum diskusi
Kekurangan :
  1. Laporan media on-line tidak seluruhnya informasi yang disajikan
  2. Menghabiskan waktu lama untuk mengakses
  3. Tidak dapat dibaca saat perjalanan
  4. Membaca di layar komputer sangat melelahkan
  5. Akses internet menghabiskan biaya besar
  6. Terlalu banyak ‘link’ jadi membingungkan
  7. Menghabiskan waktu yang lama untuk berhubungan dengan link yang tersedia.
Salah satu kesimpulan penelitian ini adalah bahwa updates pada media on-line kerap kali terjadi. Dan satu dari dua belas berita akan dilakukan perubahan lebih dari tiga kali dalam sehari, karena memang disitulah kelebihan media on-line yaitu kecepatan penyampaian berita. Perilaku pembaca surat kabar juga berubah. Menurut survei yang dibuat oleh Jupiter sebuah perusahaan konsultan, menunjukkan bahwa 12 % orang melihat breaking news melalui internet dulu, ketimbang melalui radio. Tetapi mereka tidak menginginkan artikel panjang, mereka ingin judul saja dan berita yang di-update secara rutin.
Selain internet orang banyak mencari breaking news dari jaringan televisi 24 jam, sama dengan wire service yang mensuplai berita ke AOL atau Yahoo, dua situs besar di internet, sedangkan surat kabar berada di urutan paling akhir. Berdasarkan penelitian yang dibuat Merce Management Consulting beberapa tahun lalu, televisi dan radio menjadi sumber yang lebih penting untuk berita yang aktual, sedangkan surat kabar lebih berharga untuk berita property, pekerjaan, olahraga, hiburan, seni, makanan, persoalan rumah tangga. Tetapi kemudian mereka yang di internet mengambil bidang itu yang menyajikannya lebih mendalam. Maka pencinta olahraga lebih suka masuk web site tim favorit mereka dibandingkan surat kabar.
Walaupun internet telah mengungguli media massa tradisional, kebutuhan untuk berita yang ditulis dengan baik dan berdasarkan penelitian mendalam tetap ada. “The easier it is to publish, the more rubbish will get published” demikian pendapat para jurnalis tradisional. Institusi media massa tradisional yang sudah memiliki reputasi baik yang mempublikasikan isinya di internet lebih dipercaya dibandingkan the cheap journalist. (Kompas on-line).

Penutup
Berita-berita yang disampaikan melalui media on-line memang lebih cepat dibandingkan dengan surat kabar yang diterbitkan, tetapi bukan berarti lebih lengkap. Juga pada media on-line tidak menyediakan banyak ruang yang membahas berita secara detail, lain halnya pada media tradisional yang ruang untuk beritanya lebih banyak sehingga masalah kecil pun diangkat menjadi beritanya.
Media on-line lebih mengutamakan agar pembaca mengetahui peristiwa bukan memahami apa yang terjadi, sedangkan pada media tradisional sebaliknya, berita tidak hanya untuk diketahui tetapi dipahami juga. Pengaruh pemberitaan melalui media on-line hanya pada kecepatan pemberitaan suatu peristiwa, sehingga yang mengakses informasi melalui media ini memperoleh informasi secara aktual tidak seperti pada media tradisional.
Masyarakat cenderung menggunakan media on-line karena keaktualan informasi yang disampaikan dan tidak mempengaruhi penyebaran informasi melalui media tradisional. Hal ini disebabkan karena media tradisional masih digunakan luas di masyarakat  karena biayanya relatif murah dan mudah mengaksesnya.








Daftar Rujukan

Buick, Joanna dan Zaron Zevtic, Mengenal Cyberspace For Beginners, Bandung : Mizan, 1997.

Ely, D.P., Information Technology in Education: The Best of ERIC, New York: ERIC Clearinghouse on Information Resources, 1982.

Grant, E August, Communication Technology Update, Fifth Edition, Butterworth-Heinemann, 1996.

Koswara, E, Dinamika Informasi dalam Era Global, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1998.

Macmara, Jim, Strategi Jitu Menjinakkan Media, Jakarta : PT. Mitra Media Publisher, 1999.

Muis, A., Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta : PT. Dharu Anuttama, 1999.

Negroponte, Nicholas, Being Digital, Yogyakarta: Mizan, 1998.

Piliang, Amir Yasraf, Sebuah Dunia Yang Dilipat, Yogyakarta : Mizan Pustaka, 1998.

William, Frederick, The New Communication, Third Edition, California: Wadsworth Publishing Company, 1992.