skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

UNSUR DAKWAH DALAM MEMOTIVASI MAHASISWA PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR


Oleh Masruddin


Abstrak :   This paper focused on the inserting dakwah in giving motivation during teaching and learning process. The objective of this paper is to describe the way of inserting dakwah in motivating the students during teaching and learning English process.

Kata kunci : Motivasi dan Dakwah, Proses Belajar Mengajar

Pendahuluan
Pengajaran tradisional menitikberatkan pada metode imposisi, yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid. Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai  atau tidak dengan kesanggupan / perkembangan, serta pemahaman murid. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid.
Sejak adanya penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi tentang kepribadian dan tingkah laku manusia, serta perkembangan dalam bidang ilmu pendidikan maka pandangan tersebut kemudian berubah, faktor siswa didik justru menjadi unsur yang menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran yang disampaikan oleh guru. Tokoh pendidikan yang memulai pandangan baru ini, antara lain; Dr. Ovide Dicroly, yang terkenal dengan pengajaran berdasarkan “pusat minat” anak. Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya seperti Dr. John Dewey, yang terkenal dengan “ pengajaran proyeknya”, yang berdasarkan pada masalah yang menarik minat siswa, sistem persekolahan lainnya. Sehingga sejak itu pula para ahli berpendapat, bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu, dan perbuatan belajar akank berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang ada pada murid.
Motivasi merupakan salah satu prasyarat utama dalam proses belajar-mengajar. Tanpa adanya motivasi hasil belajar yang dicapi siswa tdak akan optimal. Stimulus belajar yang diberikan guru tidak akan berarti tanpa adanya motivasi siswa.
Mengingat pentingnya motivasi tersebut maka dalam makalah ini penulis akan membahas tentang:
-          pengertian motivasi
-          Cara-cara memotivasi kegiatan belajar siswa dan pemasukan unsur dakwah dalam motivasi tersebut.

Pengertian Motivasi
Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebaagi suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/ mendesak.
Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting:
1.       Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusiakarena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2.       Motivasi ditandai dengan munculnya rasa/”feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah-laku manusia.
3.       Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan, jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena teransang / terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Dalam kegiatan belajar-mengajar, apabila ada seseorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak teransang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab musababnya dan kemudian mendorong seorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain siswa itu diberi rangsangan agar tumbuh motivasi pada  dirinya atau singkatnya diberi motivasi.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan apabila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.  Jadi motivasi itu dapat diransang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan ynag dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang sama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-inteletual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai energi untuk melakukan kegiatan belajar.

Cara Menggerakkan Motivasi Belajar Siswa dan Penambahan Unsur Dakwah dalam

Prof. Dr. Oemar Hamalik (2004) menyatakan bahwa guru dapat menggunakan berbagai cara untuk menggerakkan atau membangkitkan motivasi belajar siswanya, ialah dengan cara sebagai berikut:

1)   Memberi angka
Murid yang mendapat angkanya baik, akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar, sebaliknya murid yang mendapat angka kurang, menimbulkan frustasi atau dapat juga menjadi pendorong agar belajar lebih baik.
2)   Pujian
Pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan dengan berhasil, besar manfaatnya sebagai pendorong belajar. Pujian menimbulkan rasa puas dan senang.
3)   Hadiah
Cara ini dapat juga dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu, misalnya pemberian hadiah pada akhir tahun kepada para siswa yang mendapat atau menunjukkan hasil belajar yang baik, memberikan hadiah bagi para pemenang sayembara atau pertandingan olahraga.
4)   Kerja Kelompok
Dalam kerja kelompok dimana melakukan kerja sama dalam bejlajar, setiap anggota kelompok turutnya, kadang-kadang perasaan untuk mempertahankan nama baik kelompok menjadi pendorong yang kuat.
5)   Persaingan
Baik kerja kelompok ataupun persaingan memberikan motif-motif sosial kepada murid. Hanya saja persaingan individual akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik, seperti: rusaknya hubungan persahabatan, perkelahian, pertentangan, persaingan antar kelompok belajar.
6)   Tujuan dan level of aspiration
Dari keluarga akan mendorong kegiatan siswa
7)   Sarkasme
Ialah dengan jalan mengajak para siswa yang mendapat hasil belajar yang kurang. Dalam batas-batas sarkasme dapat mendorong kegiatan belajar demi nama baiknya, tetapi dipihak lain dapat menimbulkan sebaliknya, karena siswa merasa dirinya dihina, seingga memungkinkan timbulnya konflik antara muid dan guru.
8)   Penilaian
Cara ini dapat membangkitkan motivasi belajar oleh karena dalam kegiatan ini akan mendapat pengalaman langsung yang bermakna baginya. Selain dari itu, karena objek yang akan dikunjungi adalah objek ynag menarik minatnya.

10) Film Pendidikan
Setiap siswa merasa senang menonton film. Gambaran dan isi cerita film lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar.
11) Belajar melalui radio
Mendengarkan radio lebih menghasilkan daripada mendengarkan ceramah guru. Radio adalah alat yang penting untuk mendorong motivasi guru dalam mengajar.
Masih banyak cara yang dapat digunakan oleh guru untuk membangkitkan dan memelihara motivasi belajar murid. Namun yang lebih penting ialah motivasi yang timbul dari dalam diri murid sendiri seperti dorongan kebutuhan, kesadaran akan tujuan, dan juga pribadi guru sendiri merupakan contoh yang dapat meransang motivasi mereka.
Untuk memasukkan unsur dakwah dalam berbagai cara memotivasi siswa diatas, maka diperlukan persiapan-persiapan yang matang tentang unsur dakwah apa yang bisa dimasukkan dalam setiap item motivasi yang digunakan.  Contoh misalnya kita bisa menggunakan ayat-ayat alqur’an dan hadits yang senantiasa menuntut manusia menuntut ilmu dan senantiasa bersemangat.  Cara lain yaitu melalui penggunaan potongan dan ringkasan film-film berunsur religius seperti ayat-ayat cinta dan ketika cinta bertasbih.

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan:
-          Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling dan dirangsang karena adanya tujuan.
-          Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar itu terdiri antara lain: memberi angka, hadiah, kerja kelompok, persaingan, pujian, hukuman, dan lain-lain.
-          Unsur dakwah dapat dimasukkan selama proses pemberian motivasi untuk memberikan efek nilai-nilai islami kepada peserta didik.

Saran
Sebagai seorang guru, seyogyanya selalu memberikan motivasi kepada para siswa agar terjadi kondisi belajar yang kondusif. Dan nilai dakwah dapat memberikan nilai tambah pada anak didik.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut, dakwah adalah upaya untuk mengajak manusia ke jalan yang benar yang diridhai oleh Allah SWT. demi mencapai kemaslahatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Pers atau surat kabar adalah salah satu media komunikasi antarmanusia dalam menyampaikan pesan-pesan yang diinginkan. Jadi pers merupakan alat untuk menyampaikan dakwah.
Dakwah masa kini melalui media massa/surat kabar adalah langkah yang tepat, karena dengan pers objek dakwah akan lebih cepat menerima informasi yang diperlukan. Namun pers atau surat kabar sekarang masih sangat terbatas dijadikan sebagai media komunikasi dakwah oleh pelaku dakwah.
Cara berkomunikasi dalam bentuk dakwah melalui pers harus mengikuti teori-teori persuratkabaran tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran agama, agar pesan-pesan dakwah dapat diterima dengan baik oleh   sasarannya.

Daftar Rujukan

Daljono M, Drs. 1997. Psikologi Pendidikan, Cet. I, Rineka Cipta, Jakarta

Hamalik Oemar, Dr. Prof.. 2004. Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta

Sardiman AM., 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sriyono, Drs.1991, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA, Rineka Cipta, Jakarta.