skip to main | skip to sidebar

Follow by Email

SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA DAKWAH


Oleh Masmuddin


Abstrak :   Da’wah in Islam is an absolute obligation executed by every moslem according to ability owned. Therefore method of forwarding of da’wah is very important matter, because can determine its effectivity, so that present day da’wah have ought to be tidy in so many effective method as according to its object condition.
                   Present day da’wah through mass media/newspaper is a step in the right direction, because with the mass media of da’wah object will be more quickly accept the information needed. Way of communicating in the form of da’wah through mass media have to follow the press theory without leaving values of religion teaching, in order da’wah messages can be receive by its target.

Kata kunci : dakwah, media, surat kabar.

Pendahuluan
Dakwah dalam Islam adalah suatu kewajiban yang mutlak dilaksanakan oleh setiap muslim menurut kemampuan yang dimilikinya, sebagaimana disinyalir oleh al-Qur’an:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang-orang yang menyeru kepada Allah (agama-Nya) serta beramal saleh serta berkata saya salah seorang muslim (Q.S. Fushilat: 33)
Dari makna ayat tersebut, dapat dipahami bahwa tugas dakwah dalam Islam adalah tugas mulia dan merupakan kewajiban. Sasaran dakwah dalam Islam adalah seluruh umat manusia tanpa kecuali, apakah telah memiliki suatu agama atau belum. Oleh karena itu metode penyampaian dakwah adalah hal yang sangat penting, karena dapat menentukan efektif tidaknya suatu penyampaian.
Kemajuan IPTEK masa kini dapat mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para pelaku dakwah. Oleh karena itu, dakwah masa kini sudah seharusnya dikemas dalam berbagai metode yang efektif sesuai dengan kondisi objeknya.
Dakwah billisan yang selama ini digunakan oleh para pelaku dakwah, dianggap tidak memadai lagi. Oleh karena itu dakwah seharusnya menggunakan metode-metode komunikasi sebagaimana halnya penyampaian informasi secara umum, dengan menggunakan media komunikasi yang komunikatif. Surat kabar adalah salah satu media massa yang banyak mendapat perhatian seluruh lapisan masyarakat. Namun media tersebut belum banyak dimanfaatkan oleh para pelaku dakwah masa kini.

Hubungan Dakwah dengan Surat Kabar
Untuk mengetahui apa hubungan dakwah dengan surat kabar, maka terlebih dahulu kedua istilah tersebut diberi pengertian sebagai berikut:
Menurut Al-Bahy al-Khauly, dakwah adalah usaha mengubah situasi kepada yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap individu maupun masyarakat (Al-Bahy al-Khauly, 1987: 35). Pengertian ini menunjukan bahwa esensi dakwah bukan hanya terletak pada usaha mengajak kepada keimanan dan ibadah saja, lebih dari itu dakwah adalah usaha penyadaran manusia atas keberadaan dan keadaan hidup mereka. Barangkali yang dimaksud pengertian dakwah ini sesuai dengan pendapat Munir Mulkhan bahwa dakwah bermakna usaha pemecahan suatu masalah dan pemenuhan kebutuhan manusia (Abdul Munir M., 1985: 34).
Sedangkan Ali Mahfuzh dalam bukunya “Hidayat al-Mursyidin”, memberikan defenisi dakwah sebagai berikut:
“Mendorong (memotivasi) umat manusia melaksanakan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintah mereka berbuat makruf dan mencegahnya dari perbuatan mungkar agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat” (Ali Mahfudz, 1975: 7).
Dari beberapa defenisi tersebut dapat ditarik kesimpulan, pertama dakwah merupakan suatu proses usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja, sehingga diperlukan organisasi, manajemen, sistem, metode dan media yang tepat. Kedua, usaha yang diselenggarakan itu berupa ajakan kepada manusia untuk beriman dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah, amar ma’ruf dalam arti perbaikan dan pembangunan masyarakat, dan nahi munkar.
Ketiga, proses usaha yang diselenggarakan tersebut berdasarkan suatu tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah. Sedangkan surat kabar adalah salah satu bentuk jurnalistik. Djafar H. Assegaf (1983) mengatakan jurnalistik merupakan kegiatan untuk menyampaikan pesan/berita kepada khalayak ramai (massa), melalui saluran media, baik media cetak maupun media elektronik (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 16).
Sehubungan dengan itu Bahri Gazali mengatakan bahwa surat kabar adalah salah satu media komunikasi masyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya (Bahri Gazali, 1997: 42)  Oleh karena itu surat kabar lebih menekankan nada informatif, namun terdapat juga nada persuasif.
Media pers seperti surat kabar, majalah tidak hanya sarat dengan informasi-informasi berwujud berita, tetapi juga diwarnai dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya yang bersifat ganda, memberi infomasi sekaligus menghibur (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 34). Dengan demikian pers memiliki empat fungsi utama yaitu sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, melakukan kontrol sosial dan mendidik masyarakat secara luas (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 4).
Perlu pula diketahui bahwa fungsi menghibur bagi pers, bukan dalam arti menyajikan tulisan-tulisan atau informasi-informasi mengenai jenis-jenis hiburan yang disenangi oleh masyarakat. Akan tetapi menghibur dalam arti menarik pembaca dengan menyuguhkan hal-hal yang ringan diantara sekian banyak informasi yang berat dan serius. Sutirman Eka Ardhana, 1995: 35).
Dengan demikian tampak bahwa ada kesamaan antara fungsi dakwah dan fungsi pers (surat kabar). Dalam hal ini Hasanuddin mengatakan bahwa persamaan antara dakwah dan publisisti yaitu sama-sama menyampaikan isi pernyataan, sasarannya sama-sama yaitu manusia, sama-sama bertujuan agar manusia lain jadi sependapat, selangkah dan serasi dengan orang yang menyampaikan isi pernyataan (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 45).
Dengan demikian, kelihatan bahwa antara dakwah dan media yang disebut surat kabar atau Koran mempunyai hubungan yang erat, terutama dakwah masa kini yaitu surat kabar sebagai alat penyampaian dakwah kepada khalayak.

Mengapa Dakwah Melalui Surat Kabar
Untuk melihat secara gamblang mengapa dakwah masa kini perlu melalui surat kabar, maka perlu dilihat beberapa unsur dakwah. Menurut Prof. Dr. Hamka seperti yang dikutip oleh H. M. Iskandar dalam buku Pemikiran Hamka tentang Dakwah, beliau mengemukakan lima unsur dakwah yaitu subjek dakwah, materi dakwah, metode dakwah, media dan sarana dakwah dan objek dakwah (H. M. Iskandar, 2001: 251).  Unsur-unsur tersebut salah satu diantaranya adalah media dan sarana dakwah. Media dalam sebuah informasi adalah sangat penting, karena media merupakan saluran informasi yang merupakan faktor penentu berhasil tidaknya suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Realitas menunjukkan bahwa dakwah billisan sekarang ini sudah dianggap tidak memadai lagi (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 45). Oleh karena itu, pelaku dakwah masa kini harus melihat kondisi objektif sasaran dakwah. Kehadiran pers dewasa ini dalam kaitannya dengan perubahan sosial, tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Selama ini tidak seorang pun yang menyangkal bahwa masjid merupakan pusat dakwah yang efektif. Akan tetapi dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang pesat dari tahun ke tahun, kini dakwah tidak cukup hanya dipusatkan di masjid saja tanpa mencoba mencari alternatif lain, mengembangkannya di luar masjid dengan mempergunakan media yang tersedia, seperti pers atau surat kabar. Pers dalam arti luas adalah menyangkut kegiatan komunikasi baik yang dilakukan dengan media cetak, maupun dengan media elektronik (Hikmat K.,  2005: 17).
Di tengah-tengah perkembangan dan pembangunan sektor komunikasi yang menggembirakan sekarang ini, pikiran untuk mengembangkan dakwah dengan melihat pers tentu saja merupakan langkah yang tepat dan bijak. (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 17). Sekarang sudah saatnya para pemikir, muballigh, ulama dan pemuka Islam lainnya, memanfaatkan serta mempergunakan peluang maupun pengaruh yang dimiliki oleh pers tersebut guna meningkatkan dakwah. Harapan tersebut seirama dengan apa yang dinyatakan oleh Hasan Basri Tanjung bahwa beranjaknya kehidupan masyarakat pada tahap informasi telah mengajak kita untuk melangkah lebih jauh atau paling tidak sama dengan perubahan sosial yang ada. Untuk mengantisipasi hal tersebut kata beliau, dakwah billisan tidak memadai lagi, tetapi harus mendapat dukungan dengan suatu media yang refresentatif dan relevan dengan cakrawala pikiran manusia yang semakin maju (Hasan Basri Tanjung, 1993). Dengan demikian pers dapat dipandang sebagai bagian dari strategi dakwah, sekaligus sebagai instrumen perubahan yang bersifat hikmah, yang menurut Harun Nasution memiliki dimensi intelektual, etikal, estetikal, dan prakmatikal. Suatu hal yang perlu disimak, sejalan dengan gerakan reformasi yang digulirkan, bahwa pengeluaran SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) yang dulu sarat dan berbelit-belit kini menjadi terbuka lebar.
Dunia pers yang memiliki fungsi utama sebagai media informasi, media hiburan dan media kontrol sosial kini semakin semarak. Kehidupan masyarakat pun tidak bisa lagi dipisahkan dengan pers (A. Asep Muhyidin & Agus Ahmad Syafei, 2002: 208).
Masyarakat kini, khususnya masyarakat yang melek secara informasi, sangat bergantung kepada pers. Kini masyarakat dapat leluasa membaca surat kabar apa saja dari surat kabar politik, dakwah, sampai surat kabar yang seluruh isi halamannya diisi dengan bentuk-bentuk sensual lengkap dengan gambar-gambarnya yang serba terbuka dan menantang (A. Asep Muhyidin & Agus Ahmad Syafei, 2002: 208). Bahkan kini telah muncul pula surat kabar digital yang bisa diakses di internet semacam detik.com atau astaga.com dan lain-lain. Namun demikian perlu pula diingat bahwa pada dasarnya, pers adalah pedang bermata dua, ia dapat menjadi alat dakwah yang sangat efektif, tetapi pada saat bersamaan ia juga dapat menjadi medium propaganda setan yang paling jitu. (A. Asep Muhyidin & Agus Ahmad Syafei, 2002: 209).
Pilihan masyarakat pun demikian hanya ada tiga memilih pers kuning (yellow paper) yang hanya mengekspos gosip dan fitnah, ataukah pers yang memang punya misi menegakkan kebenaran, ataukah memakan kedua-duanya. Masalahnya kembali kepada pelaku dakwah yang mau memanfaatkan ruang publik yang bernama media per situ untuk kepentingan dakwah Islam.

Berdakwah melalui Surat Kabar
Berdakwah melalui surat kabar atau koran mempunyai cara dan karakteristik tersendiri, berbeda dengan berdakwah pada media lainnya. Surat kabar adalah salah satu komunikasi masyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya. Surat kabar atau koran lebih menekankan nada informatif namun terdapat nada persuasif (Bahri Gazali, 1997: 43). Berdakwah melalui Koran dapat dilakukan dalam bentuk tulisan maupun gambar-gambar yang mendiskripsikan suatu ajaran dan aplikasinya bagi kehidupan umat manusia.
Dakwah melalui Koran lebih tepat dan cepat tersebar ke seluruh masyarakat, di samping itu masyarakat mudah memahaminya, sebab koran merupakan media yang telah mampu menjangkau keberadaan masyarakat. Perlu diketahui pula bahwa isi koran cukup merakyat. (Bahri Gazali, 1997: 43).
Berangkat dari gambaran surat kabar tersebut dan kemungkinan berdakwah melalui koran maka perlu ditata teknik yang tepat dan peningkatan isi/materi dakwah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang berarti bahwa berdakwah melalui tulisan di koran membutuhkan tulisan yang selektif dan terarah untuk masyarakat luas. Oleh karena itu menulis pesan-pesan dakwah di koran perlu memperhatikan karakteristik media massa. Asep Saiful Muhtadi dalam bukunya Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktek mengemukakan karakteristik media massa sebagai berikut, pertama, komunikasi massa berlangsung satu arah. Kedua, komunikasinya bersifat melembaga. Ketiga, pesan-pesan yang disampaikan bersifat umum. Keempat, pesan-pesan yang disampaikan lewat media digunakan secara serempak. Kelima, komunikasinya bersifat heterogen (Asep Saiful, 1999: 73). Dalam hubungan ini, Denis Mc Quail, mengemukakan bahwa surat kabar tidak lahir dari satu sumber dan memiliki ciri-ciri khas dengan media lain (Denis Mc Quail, 1999: 9). Dengan demikian berdakwah melalui surat kabar harus selalu memperhatikan prinsip-prinsip komunikasi pada umumnya. Selama ini, penulis berita selalu berpegang pada enam pedoman dalam menulis suatu berita yaitu: apa yang terjadi, siapa yang terlibat di dalamnya, mengapa kejadian atau peristiwa itu terjadi, dimana terjadinya, kapan peristiwa itu terjadi, dan bagaimana kejadiannya (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 44). Khusus untuk tujuan komunikasi massa seperti dakwah bagi masyarakat luas maka produk jurnalistik dapat disampaikan melalui media cetak (Kustadi Suhandang, 2007:163).
Oleh karena itu menulis pesan-pesan dakwah dalam sebuah koran maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu tulisan bernuansa dakwah itu akan dikonsumsikan kepada media apa, apakah media pers khusus Islam atau pers umum. Menulis dakwah untuk media pers khusus Islam memiliki teknik dan cara yang sedikit berbeda dengan menulis di media pers umum. Media khusus Islam pembacanya sudah jelas sedang media pers umum pembacanya heterogen berasal dari beragam latar belakang kepercayaan. Karena itu bahasa dakwah melalui jurnalistik harus memiliki sifat singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Sedang bahasa agama adalah bahasa yang mengedepankan kemurnian, kebenaran, kebersihan, jauh dari kata-kata kotor, kasar, tidak simpatik dan menyingkirkan kata-kata yang bernada hasutan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Hujurat: 11-12, Q.S. Lukman: 18-19.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut, dakwah adalah upaya untuk mengajak manusia ke jalan yang benar yang diridhai oleh Allah SWT. demi mencapai kemaslahatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Pers atau surat kabar adalah salah satu media komunikasi antarmanusia dalam menyampaikan pesan-pesan yang diinginkan. Jadi pers merupakan alat untuk menyampaikan dakwah.
Dakwah masa kini melalui media massa/surat kabar adalah langkah yang tepat, karena dengan pers objek dakwah akan lebih cepat menerima informasi yang diperlukan. Namun pers atau surat kabar sekarang masih sangat terbatas dijadikan sebagai media komunikasi dakwah oleh pelaku dakwah.
Cara berkomunikasi dalam bentuk dakwah melalui pers harus mengikuti teori-teori persuratkabaran tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran agama, agar pesan-pesan dakwah dapat diterima dengan baik oleh   sasarannya.








Daftar Rujukan

al-Bahy, al-Khauly. Tadzkirat al-Du’at Kairo: Maktabah Dar al-Turas,                      1408 H/1987 M.

Ardhana, Sutirman Eka. Jurnalistik Dakwah Cet. I. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995.

Gazali, Bahri. Dakwah Komunikatif, Cet. I, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997.

Iskandar, H. M., Pemikiran Hamka tentang Dakwah, Makassar: Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM), 2001.

Kusumaningrat, Hikmat dan Parnama Kusumanigrat. Jurnalistik Teori dan Praktek, Cet. I, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005.

Mahfudz, Syekh Ali. Hidayat al-Mursyidin Mesir: Dar al-Mishr,             1975 cet. VII.

McQuail, Denis. Teori Komunikasi Massa suatu Pengantar Cet. II, Jakarta: Erlangga, 1999.

Muhyidin, A. Asep & Agus Ahmad Syafei. Metode Pengembangan Dakwah Cet. 1. Bandung: Pustaka Setia, 2002.

Mulkhan, Abdul Munir. Al-Dakwah al-Islamiyah fi’ Ahdiha al-Makky Manhijuha wa Ghayatuha Kairo: al-Fajr al-Jadid, 1985.

Saiful, Asep. Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktek Cet. 1. Jakarta: Logos, 1999.

Suhandang. Kustadi. Manajemen Pers Dakwah: Dari Perencanaan Hingga Pengawasan, cet. I. Bandung:  Marja, 2007.

Tanjung, Hasan Basri. Pers Islam sebuah Dilema, Jakarta: Harian Terbit, Sabtu 21 Agustus 1993.